Scroll untuk baca artikel
Opini

Mengenal Psikologis dan Strategi Menghadapi Perilaku Agresif Pelaku Bullying

373
×

Mengenal Psikologis dan Strategi Menghadapi Perilaku Agresif Pelaku Bullying

Sebarkan artikel ini
Marcelleno
Marcelleno

Marcelleno

Mahasiswa Hukum Universitas Bangka Belitung

Bullying merupakan suatu Tindakan penggunaan kekuasaan oleh seseorang atau sekelompok orang bertujuan untuk menyakiti orang lain secara Fisik, Verbal, maupun Psikologis seseorang sehingga seseorang tersebut merasa Trauma, Tertekan, dan Tak Berdaya (Sejiwa, 2008). Perilaku Bullying sendiri merupakan Tindakan yang dilakukan secara berulang dan terus menerus dilakukan untuk menyakiti orang lain.

Seseorang yang mengalami perilaku Bullying akan mengalami berbagai macam masalah seperti Masalah Kesehatan, baik secara fisik maupun mental dalam dirinya. Adapun masalah yang mungkin akan dialami oleh si korban adalah masalah mengenai kesehatan mental seperti Depresi, Kegelisahan, Masalah Tidur yang terganggu dan Masalah Fisik seperti ketegangan otot, sakit kepala, merasakan rasa tidak aman Ketika berada di sekitar orang lain dan penurunan rasa semangat diri dalam melakukan aktivitas. Korban Bullying biasanya adalah anak yang secara fisik lemah tidak mampu membalas perbuatan pelaku, si pelaku bullying akan terus mengulangi perbuatan mereka tersebut.

Karakteristik Psikologi Pelaku Bullying

Pelaku bullying dapat mengalami berbagai latar belakang dan motivasi yang berbeda-beda dalam tindakan bullying yang mereka lakukan. Namun ada beberapa sifat umum yang dimiliki oleh pelaku Bullying biasanya yaitu:

  1. Perilaku yang Agresif: pelaku bullying biasanya adalah memiliki sifat yang mudah pemarah, mereka sering merespon dengan amarah dan kekerasan terhadap segala apapun yang memancing emosi mereka.
  2. Rendahnya Rasa Empati: Pelaku bullying cenderung kurang memiliki rasa empati atau ibah terhadap perasaan orang lain, bahkan mereka akan bahagia ketika mereka melihat korban mereka terluka dan menderita.
  3. Kurang bisa Mengontrol Diri: seorang pelaku bullying kurang mampu dalam mengntrol diri mereka akan mudah sekali marah dalam hal-hal sepele sekali pun.
  4. Rendahnya Harga Diri: beberapa pelaku bullying merasa bahwa diri mereka berkuasa dalam hidup mereka, sehingga bahkan memperlihatkan kekuasaan dengan perilaku bullying.
Baca Juga:  Refleksi Kasus Eks Vokalis Amigdala (Potret Pelindung Terhadap Perempuan di Indonesia)

Namun, perlu dipahami juga bahwa tidak semua orang yang memiliki sifat dan karakteristik yang di sebutkan diatas merupakan pelaku bullying. Terkadang mereka melakukan hal tersebut dikarenakan minimnya perhatian dan rasa kasih sayang dari orang sekitar mereka.

Latar Belakang Penyebab Bullying

Penyebab utama seseorang menjadi pelaku “Bullying” bisa dari berbagai faktor pendorong seperti kurangnya perhatian dari kedua orang tuanya, keadaan keluarga yang berantakan sehingga jati diri anak merasa tersisihkan, atau bisa juga seorang anak tersebut meniru perilaku “Bullying” dari teman bergaulnya serta tayangan-tayangan di internet maupun televisi.

  1. Kurangnya Perhatian, Orang tua yang selalu sibuk bekerja untuk membiayai anaknya sekolah, namun disisi lain anak mereka juga memerlukan perhatian yang besar terhadap tumbuh kembang mereka. Dampaknya anak akan melakukan Tindakan yang mereka anggap selalu benar tanpa adanya perhatian dan kontrol dari kedua orang tua mereka.
  2. Broken Home, anak yang mengalami broken home akan cenderung mengalami tekanan emosional yang tinggi, tetapi dalam suatu sisi usia mereka belum siap menerima hal tersebut. Seorang anak yang selalu melihat orang tuanya yang sering bertengkar akan memiliki pikiran bahwa pertengkaran bukanlah hal yang patut dipermasalahkan melainkan hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga diluar lingkungan keluarga mereka akan melakukan hal yang serupa kepada teman mereka.
  3. Teman Bergaul yang Salah, faktor teman sebaya sangat berpengaruh signifikan terhadap perilaku bullying pada anak. Seorang anak akan cenderung mengikuti perbuatan teman sebaya mereka yang suka melakukan tindakan bullying, dan dapat meningkatkan sikap kecenderungan seseorang terhadap tindakan bullying. Pergaulan yang salah juga dapat meningkatkan risiko menjadi korban bullying ketika tidak ada korban bullying di sekitar mereka.
  4. Tayangan Internet, dari internet kita dapat belajar apa saja mengenai kehidupan tidak terkecuali hal-hal negatif. Internet dan televisi cenderung menjadi salah satu pembentuk pola berpikir dari seorang anak dari apa yang mereka buka dan menjadi tontonan yang membentuk kepribadian anak. Dari survey yang dilakukan oleh Kompas menampilkan bahwa 56,9% anak-anak menirukan adegan-adegan dari tayangan internet dan televisi. Alangkah sebaiknya kita sebagai orang dewasa agar mengontrol terhadap apa yang dibuka di internet dan apa yang mereka tonton di televisi agar sesuai terhadap tumbuh kembang anak-anak.
Baca Juga:  Konservasi Keanekaragaman Hayati Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Era Disrupsi Digital

Cara Menghadapi Perilaku Agresif Mereka

Dalam hal mengatasi perilaku amarah dari pelaku Bullying dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti:

  • Mengajak bicara secara baik-baik dengan pelaku bahwa Tindakan dan perilaku yang mereka lakukan kepada terhadap orang lain adalah salah tidak benar dan dapat merugikan orang lain.
  • Memastikan mereka bahwa perilaku bully-lah yang tidak disukai oleh orang banyak bukan diri mereka.
  • Meyakinkan pelaku bahwa ada banyak orang yang bersedia dan siap membantu mereka dan akan bekerja sama dengan mereka untuk mengubah perilaku yang menyebabkan mereka tidak disukai oleh orang lain.
  • Jelaskan kepada mereka sebaiknya meminta maaf terhadap apa yang mereka lakukan kepada korban karena telah membuat orang lain menderita.
  • Berikan banyak apresiasi dan pujian jika mereka mulai bisa mengendalikan dan mengatur emosi dalam mereka,agar mereka terbiasa bisa mengontrol diri.

Perilaku Bullying ini sendiri adalah hal yang sangat mengganggu bagi banyak orang dan khususnya bagi anak-anak. Oleh sebab itu sangat penting bagi kita untuk mempelajari cara memahami untuk menghadapi perilaku bullying supaya dapat meminimalisir akibat buruk yang diakibatkan dari perilaku ini. Langkah pertama, alangkah baiknya para orang tua atau guru untuk selalu mendukung dan dorongan kepada anak-anak selama perilaku mereka itu benar dan tidak mengganggu orang lain. Dukungan harus mengarah ke hal positif dan memotivasi anak untuk menghadapi bullying. Selain itu juga anak-anak perlu mendapatkan pengertian yang baik mengenai nilai-nilai moral dan beretika ketika berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya.

Selanjutnya kita sebagai orang tua harus memberikan pengertian pada anak-anak bahwa perilaku bullying tersebut merupakan Tindakan salah dan tidak disukai orang lain. Anak-anak perlu memahami bahwa setiap orang berhak diperlakukan dengan baik, tanpa mengalami perlakuan diskriminasi atau pelecehan. Dengan mengenalkan nilai-nilai toleransi dan menghargai perbedaan,anak-anak dapat mengasah kemampuan dalam menghadapi Tindakan bullying.

Baca Juga:  Rapuhnya Institusi Keluarga di Indonesia

Penting juga dari orang-orang disekitar anak-anak tersebut memberikan contoh yang baik dan positif agar dapat ditiru oleh anak-anak. Misalnya orang tua dan guru dapat membangun kultur positif dan menjadikan anak-anak dapat memahami cara-cara yang benar untuk menghadapi situasi sehari-hari. Terakhir sangat penting untuk selalu menanamkan sikap percaya diri dalam diri anak-anak dan selalu memotivasi mereka untuk memperbaiki diri jika mereka melakukan kesalahan. Dengan menanamkan sikap percaya diri yang kokoh pada anak membuat mereka akan lebih mudah dalam menghadapi keadaan yang mungkin saja membuat mereka tidak nyaman.

Home
Hot
Redaksi
Cari
Ke Atas