
Nurviyanti Cholid, S. Sos. I., M. Pd. I
Dosen BKI FDKI IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung
Di bawah hamparan langit pagi, sebuah lapangan upacara sesungguhnya bukan sekadar hamparan rumput atau semen tempat ratusan fisik manusia berbaris. Dalam kacamata psikologi perkembangan dan bimbingan konseling, lapangan upacara adalah sebuah laboratorium makro pembentukan karakter. Di sinilah ego pribadi diuji, dan di sinilah kualitas kontrol diri (self-regulation) seorang individu terlihat dengan sangat telanjang.
Namun, fenomena di lapangan sering kali berbicara lain. Di antara kekhidmatan lagu kebangsaan, masih ada bisikan-bisikan kecil, tawa yang disembunyikan di balik pundak teman, atau tubuh yang gelisah bergerak tanpa arah. Mengapa perilaku maladaptif (kurang selaras) ini masih terjadi?
Dalam dunia konseling, kita mengenal konsep presence—kehadiran secara utuh, baik fisik, pikiran, maupun emosi. Ketika seorang peserta upacara main-main, mengobrol, atau sibuk dengan dunianya sendiri, mereka sedang mengalami disconnection (pemutusan hubungan) dengan realitas saat ini.
Secara psikologis, ketidakmampuan untuk berdiri tenang selama 45 menit menunjukkan rendahnya mindfulness (kesadaran penuh). Padahal, momen mengheningkan cipta atau mendengarkan amanat adalah momentum emas untuk melakukan refleksi diri (self-reflection).
Ketika pikiran kita melayang atau tangan kita usil menyenggol teman saat bendera dinaikkan, kita sedang kalah oleh impuls diri sendiri. Kita gagal mengelola kecemasan akan rasa bosan, dan memilih pelarian instan berupa candaan yang merusak kekhidmatan orang lain.
Bimbingan dan Konseling selalu menekankan pentingnya kemandirian dan kontrol diri. Berdiri tegak dalam barisan, menahan ego untuk tidak berbicara, dan memfokuskan pandangan pada satu titik (bendera) adalah bentuk latihan regulasi emosi dan perilaku yang sangat tinggi tingkatannya.
Seseorang yang memiliki kematangan emosional akan memahami konsep empati sosial:
Merespons kerja keras petugas dan sakralnya simbol negara dengan sikap main-main adalah indikator rendahnya empati dan respect (rasa hormat). Jika dalam lingkup kecil seperti barisan upacara saja kita gagal meregulasi diri, bagaimana kita akan mengelola tanggung jawab yang lebih besar dalam kehidupan bermasyarakat?
Dalam pendekatan konseling kognitif-perilaku (CBT), perubahan perilaku yang langgeng terjadi jika ada perubahan dalam struktur berpikir. Kita harus menggeser motivasi mengikuti upacara dari motivasi eksternal (takut ditegur pembina, takut dihukum, atau sekadar menggugurkan kewajiban) menjadi motivasi internal (kesadaran bahwa saya adalah bagian dari bangsa ini dan saya menghargai identitas saya).
Ketika teks Pancasila dilafalkan, itu bukan sekadar hafalan lisan, melainkan internalisasi nilai-nilai universal. Ketika doa dipanjatkan, itu adalah momen transendental untuk mengasah kecerdasan spiritual.
Melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional ini, mari kita lakukan konseling kelompok secara massal untuk diri kita masing-masing melalui teknik refleksi diri. Sebelum melangkah ke lapangan upacara berikutnya, tanyakan pada diri sendiri:
Mari kita kembalikan marwah upacara. Belajarlah untuk hadir utuh (be present). Saat aba-aba “Siap Grak!” dikumandangkan, biarkan tubuh, pikiran, dan jiwa kita ikut siap. Tahan setiap dorongan untuk bercanda. Tunjukkan bahwa kita adalah individu-individu yang matang secara psikologis, kuat secara karakter, dan memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap bangsa dan negara.
Sebab, kebangkitan nasional yang sesungguhnya tidak dimulai dari perubahan besar di luar sana, melainkan dari keberhasilan kita menaklukkan ego dan main-main di dalam diri kita sendiri, tepat di atas lapangan upacara ini.(*)