
INTRIK.ID – Praktik Curang ( Under – Invoicing ) adalah nilai atau harga barang yang tertulis di dalam faktur (invoice) dibuat lebih rendah dari harga yang sebenarnya dibayarkan. Praktik ini paling sering terjadi dalam dunia perdagangan internasional (ekspor-impor) dan biasanya dilakukan untuk mengakali pajak atau bea cukai.
Muncul pertanyaan kenapa bisa terjadi Under Invoicing? Ada beberapa motif utama di balik under-invoicing, tergantung siapa yang diuntungkan. Bagi importir bisa mengurangi bea masuk Ketika mengimpor barang, besarnya bea masuk dan pajak impor biasanya dihitung berdasarkan persentase dari total nilai barang yang tertera di invoice. Dengan mengecilkan nilai barang tersebut, importir bisa membayar pajak dan bea masuk yang jauh lebih murah kepada pemerintah.
Bagi Eksportir Under Invoicing terjadi pelarian modal, Eksportir melaporkan pendapatan yang lebih kecil di negara asalnya untuk menghindari pajak penghasilan badan atau untuk menyembunyikan sisa uangnya di rekening luar negeri (sering kali di negara tax haven atau surga pajak).
Meskipun terlihat menguntungkan bagi pelaku bisnis yang nakal, under-invoicing adalah tindakan ilegal penyelundupan administratif termasuk tindakan merugikan negara. Pemerintah kehilangan potensi pendapatan dari sektor pajak dan bea masuk.
Khusus hasil pertambangan seperti timah under invoicing bisa saja terjadi, sebagai salah satu produsen timah terbesar di dunia, Indonesia memiliki kerentanan yang cukup tinggi terhadap praktik ini. Berikut adalah analisis mengenai potensi, modus, dampak, serta upaya mitigasi terkait under-invoicing ekspor balok timah. praktik ini biasanya dilakukan dengan beberapa cara yang rapi dan melibatkan jaringan lintas batas.