
Habibah Nur Fadhila
Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung
Seiring Pada era perkembangan zaman, kegiatan bersantai di coffe shop sambil berbincang dan menikmati hidangan yang tersedia tidak lagi sekedar menjadi cara untuk menghilangkan penat atau menikmati minuman. Aktivitas tersebut telah berubah menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan remaja yang menjadikan coffe shop sebagai tempat untuk berkumpul, berbagi cerita, dan mengekspresikan diri (Studi et al., 2022). Namun, pada masyarakat modern aktivitas nongkrong di coffee shop bukan hanya untuk bersantai, tetapi juga dimanfaatkan sebagai cara untuk menampilkan identitas diri agar dianggap kekinian dan mengikuti tren (Pada et al., 2023). Contohnya pada aplikasi Instagram, banyak anak muda mengambil foto atau video ketika sedang nongkrong lalu mengunggahnya ke media sosial. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah aktivitas nongkrong di coffee shop sekedar aktivitas bersantai atau menjadi cara untuk membangun personal branding di media sosial.
Menurut saya, aktivitas nongkrong di coffee shop yang dibagikan melalui Instagram tidak lagi sekedar menjadi kegiatan bersantai atau berkumpul bersama teman. Banyak remaja datang ke coffe shop untuk mengambil foto atau video untuk mendapatkan hasil yang baik. Setelah mendapat hasil yang diinginkan, pera remaja mulai sibuk dengan gadget masing masing untuk memilih hasil foto atau video yang ingin diedit untuk mendapatkan hasil yang menarik lalu mempostingnya ke Instagram. Foto atau video yang di posting tersebut dapat dipandang sebagai salah satu cara untuk menunjukkan gaya hidup dan personal branding di media sosial.
Berdasarkan laporan Indonesia Personal Finance Outlook 2025 oleh YouGov Indonesia, hasil survei terhadap 2.067 responden berusia diatas 18 tahun menunjukkan bahwa Gen Z lebih banyak menghabiskan pengeluaran untuk gaya hidup, seperti pergi ke kafe (21%) dan membeli fesyen (20%) (Bahar, 2025). Hal ini menunjukkan bahwa coffe shop tidak hanya sebagai tempat anak muda menikmati makanan dan minuman, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun citra diri, terutama melalui media sosial Instagram.
Dalam teori dramaturgi, Goffman menjelaskan bahwa kehidupan sosial dalam masyarakat dapat diibaratkan seperti sebuah pertunjukkan teater di atas panggung. Dimana individu berperan seperti aktor yang menampilkan dirinya dihadapan orang lain (Ilmu et al., 2022). Menurut saya teori ini cocok dipakai untuk mendeskripsikan pendapat saya tentang konteks nongkrong sebagai sarana personal branding. Dalam konteks media sosial khususnya Instagram dapat dianggap sebagai panggung oleh individu untuk menampilkan citra yang diinginkan dihadapan orang lain. Oleh karena itu ketika mengunggah foto atau video saat nongkrong di coffee shop yang aesthetic artinya secara tidak langsung sedang menampilkan gaya hidup dan citra diri didepan orang lain.
Fenomena nongkrong di coffee shop yang diposting di media sosial Instagram menunjukkan adanya pengaruh media sosial dalam mempengaruhi cara seseorang untuk menampilkan dirinya di ruang publik. Banyak anak muda yang memilih coffee shop aesthetic dan kekinian untuk mendapatkan hasil foto yang terlihat bagus untuk di posting. Hal ini menunjukkan cara seseorang untuk membangun personal branding dan menunjukkan gaya hidup yang sesuai didepan publik.
Namun, tidak semua aktivitas nongkrong di coffee shop aesthetic sebagai upaya membangun personal branding di media sosial. Pada kenyataannya, banyak orang yang memanfaatkan coffee shop sebagai tempat untuk menikmati makanan dan minuman, berkumpul dan bersantai bersama teman, bertemu rekan kerja atau bahkan belajar (Pada et al., 2023). Hal ini menunjukkan bahwa coffee shop juga menjadi ruang sosial untuk beraktivitas sehari hari. Jadi, tidak semua unggahan foto atau video aesthetic yang diambil ketika nongkrong hanya sebagai sarana untuk personal branding, namun bisa saja bertujuan sebagai dokumentasi ayau hanya bebagi momen kepada orang lain.
Bersadarkan pembahasan tersebut dapat dilihat bahwa aktivitas nongkrong di coffee shop bukan hanya lagi sebagai tempat aktivitas bersantai tetapi juga mulai menjadi cara bagi remaja untuk menunjukkan personal branding di Instagram. Meskipun tidak semua tujuan anak muda seperti itu, banyak anak muda yang datang ke coffee shop untuk melakukan aktivitas lainnya. Oleh karena itu, penting untuk bijak mengikuti tren di media sosial dan juga melakukan aktivitas positif ketika berkumpul. Hal ini juga menjadi bahan refleksi tentang apakah yang ditampilkan di media sosial sudah menunjukkan diri kita atau hanya sekedar supaya orang tertarik kepada kita.