
Oleh: Nurul Aryani (Aktivis Dakwah Islam)
Pemerintah Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah bersama Stakeholder terkait dan unsur masyarakat lainnya, menggelar Rapat Koordinasi pencegahan, perlindungan kekerasan pada perempuan dan anak.
Rakor yang digelar di Gedung Serba Guna Kecamatan ini merupakan upaya Pemerintah Kecamatan dalam menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, yang mana hingga saat ini angkanya cukup tinggi.
(Babelpos, 16/05/25)
Memang tidak bisa dipungkiri kekerasan terhadap perempuan dan anak terus berulang. Mirisnya, mayoritas pelaku kejahatan justru berasal dari lingkungan terdekat korban. Baik tetangga hingga keluarga. Berbagai kekerasan yang terjadi juga semakin tidak manusiawi. Menandakan bahwa perempuan dan anak tidak mendapat ruang aman sekalipun di dalam rumahnya sendiri.
Diterapkannya sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan telah membuat keimanan kering kerontang. Peran agama dalam kehidupan dinihilkan. Sehingga manusia hidup serba bebas, bertindak tanpa pedoman. Dari sini lahirlah badai kerusakan yang besar.
Manusia menjadi rusak dan dikuasai hawa nafsu. Kekerasan baik pada anak maupun perempuan tidak berdiri sendiri. Kondisi ekonomi yang sulit, jauhnya manusia dari kepribadian Islam, hingga rangsangan seksual di media sosial atau gawai mendorong manusia untuk berbuat kekerasan. Baik kekerasan fisik hingga kekerasan seksual.
Semua sebab yang mendorong munculnya kekerasan tidak lain karena diterapkan sistem sekuler kapitalisme. Kehidupan diukur dengan nilai materi, ekonomi berjalan sesuai dengan kepentingan pemilik modal, lapangan kerja sulit hingga gaji yang rendah telah melejitkan tingkat stres di kalangan perempuan dan laki-laki. Munculah hubungan yang tidak harmonis mulai dari adu mulut hingga akhirnya terjadi kekerasan dalam ranah domestik.
Begitupula kekerasan seksual pada anak terjadi akibat bebasnya tontonan yang beredar di tengah masyarakat. Industri perfilman hingga media sosial kaya akan konten yang merangsang seksual, membuka aurat, hubungan pacaran hingga hubungan terlarang telah mendorong manusia untuk melampiaskan hawa nafsu kepada anak-anak. Anak rentan menjadi korban kekerasan seksual karena tidak berdaya melawan dan mudah diancam.