Digitalisasi dan Jiwa: Pentingnya Pendampingan Perilaku dalam Transformasi

    Pebri Yanasari, M.A

    Oleh: 

    Pebri Yanasari, M.A 

    (Plt. Kaprodi BKI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS Babel)

    Desa Sejahtera

    Saat ini, kita sering mendengar istilah “Desa Digital” sebagai simbol kemajuan. Internet mulai masuk ke pelosok, aplikasi pelayanan publik mulai diperkenalkan, dan pasar daring mulai menjadi harapan baru bagi pelaku usaha di tingkat akar rumput. Namun, ada satu pertanyaan besar yang sering terlupakan: apakah kesiapan mental dan perilaku masyarakat kita sudah secepat perkembangan teknologinya? Transformasi desa menuju kesejahteraan bukan sekadar soal pengadaan perangkat keras atau sinyal Wi-Fi yang kencang, melainkan soal bagaimana “jiwa” masyarakatnya ikut bertransformasi. Tanpa pendampingan perilaku, digitalisasi berisiko menjadi benda mati yang tidak memberikan dampak nyata bagi kehidupan warga.

    Mengapa pendampingan perilaku itu sangat penting? Kita bisa melihatnya melalui teori yang sangat kuat namun sederhana, yaitu Teori Efikasi Diri (Self-Efficacy). Teori ini menjelaskan bahwa seseorang baru akan mau dan mampu melakukan sesuatu jika mereka memiliki keyakinan batin bahwa mereka sanggup menguasai hal tersebut. Di banyak wilayah, warga merasa enggan atau takut bersentuhan dengan teknologi bukan karena mereka tidak mampu secara intelektual, tetapi karena mereka kehilangan keyakinan diri untuk mencoba hal baru. Di sinilah peran Bimbingan Konseling dan Ilmu Kesejahteraan Sosial masuk. Pendampingan bukan hanya mengajarkan cara mengoperasikan perangkat, tetapi membangun mentalitas “saya bisa” dan menanamkan kesadaran bahwa teknologi adalah jembatan menuju hidup yang lebih baik.

    Pages: 1 2 3
      Ikuti kami di Facebook