
Oleh : Nurul Aryani (Tenaga Pendidik dan Aktivis Smart With Islam)
“Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan anda dapat mengubah dunia”
(Nelson Mandela)
Manusia mampu berkembang seiring sejalan dengan pendidikannya. Pendidikan adalah prioritas bagi bangsa manapun. Karena pendidikan adalah wadah untuk mencetak generasi yang siap mengambil estafet kepemimpinan. Pendidikan juga merupakan salah satu “cetakan” terbaik untuk membentuk manusia yang berbudi pekerti luhur serta memiliki kecemerlangan dalam ilmu dan keahlian.
Namun apa jadinya jika angka anak yang putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikannya lagi semakin memprihatinkan. Juli ini, Intrik.id merilis data akumulasi angka putus sekolah di Bangka Tengah yang mencapai 65.302 orang dan yang terbanyak berhenti pada jenjang SMP yakni sebanyak 45.468 orang. Angka rata-rata lama pendidikan di Bangka Tengah juga hanya mencapai 7,20 tahun atau terhenti di jenjang SMP kelas 2. Kepala Dinas Pendidikan Bangka Tengah, Iskandar mengatakan empat hal yang menjadi sebab anak putus sekolah. Yakni Finansial, broken home, keinginan pribadi dan sudah bekerja. Paling banyak ditemui yaitu keinginan pribadi yakni kehilangan motivasi belajar dan kemauan untuk bersekolah. (Intrik.id 14/07/22)
Senada dengan itu, di Kabupaten Bangka Barat dalam kurun waktu tiga tahun (2018-2020) ada 613 orang putus sekolah untuk tingkat SD dan SMP. Putus sekolah tersebut disebabkan karena faktor ekonomi, pendidikan orangtua dan faktor lingkungan. (Wowbabel.com 22/06/22)
Secara Nasional angka putus sekolah lebih memprihatinkan. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sejak 2016-2019 (sebelum pandemi) rata-rata lebih dari 100.000 anak di Indonesia putus sekolah setiap tahunnya.
Pada masa pandemi juga banyak terjadi anak putus sekolah. Dalam jajak pendapat Litbang Kompas pada 10-13 Februari 2022 lalu sebanyak 31,9 persen responden mengatakan memiliki anak, saudara atau tetangga yang putus sekolah. Lebih dari separuh (56,8 persen) menyatakan sebabnya karena persoalan biaya. Sebab lain juga gim daring sebanyak 3,1 persen. (Kompas.id 02/03/22).
Dari akumulasi data-data yang penulis paparkan, kita bisa melihat bahwa putus sekolah ini bukan sekedar angka saja melainkan ada sebab yang kompleks di dalamnya. Putus sekolah bukanlah masalah baru. Melainkan masalah klasik yang sudah ada sejak orde lama. Semakin bertambah tahun semakin bertambah sebab putus sekolah. Misalnya ada sebab karena gim daring yang tidak ditemui pada beberapa tahun lalu dimana teknologi tidak berkembang semassif hari ini.
Semakin kompleks faktor penyebab membutuhkan semakin serius semua pihak menyikapi ini. Semakin juga membutuhkan perhatian besar. Jika tidak kita akan “kehilangan” produktifitas yang efisien dari generasi kita.
Indonesia juga sedang berjalan menuju puncak bonus demografi delapan tahun lagi. Dimana usia produktif mencapai 70 persen total penduduk Indonesia. Jika jumlah usia produktif beringingan dengan bertambahnya angka putus sekolah maka bisa mengakibatkan Indonesia mengalami kekuarangan generasi yang siap mengambil alih kepemimpinan, kekurangan manusia yang memiliki keahlian dalam ilmu terapan tertentu, semakin meningkatnya pengangguran, kenakalan remaja dan anak, pergaulan bebas dan banyak persoalan lainnya.
Jika kita melihat lebih dekat anak putus sekolah ini disebabkan dua faktor. Yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal misalnya rendahnya minat atau kemauan anak bersekolah, sekolah dianggap tidak menarik dan menyenangkan, ketidakmampuan dalam menerima pelajaran, dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal yakni terkait ekonomi keluarga, kurangnya perhatian orangtua, orangtua bercerai, ikut pergaulan, permasalahan dengan guru atau teman, beban sekolah yang berat, dan lain-lain.