Putus Sekolah: Pekerjaan Rumah yang tak Kunjung Terselesaikan

    Karena itu, problem putus sekolah haruslah ditangani dengan tepat dan dengan berbagai pendekatan. Misalnya karena persoalan ekonomi. Namun disisi lain banyak juga anak yang menolak untuk melanjutkan sekolah lagi walaupun diberikan beasiswa dan uang saku. Sebut saja yang baru-baru ini viral dalam Citayam Fashion week yaitu remaja SCBD yang ditawari beasiswa oleh Sandiaga Uno (Menparekraf) namun menolak karena tidak mau mengecewakan dan memilih buka usaha saja daripada sekolah dikarenakan bapaknya kerja kasar. Dalam artian dia ingin bisa menolong orangtuanya dalam mencari rezeki.

    Disisi lain sekolah yang harusnya menjadi rumah kedua yang nyaman dan menyenangkan kehilangan peran tersebut. Kehilangan minat untuk bersekolah yang membuat anak berhenti sekolah menjadikan gambaran itu semakin tampak nyata. Sekolah dinilai tidak menarik dibandingkan dengan aktivitas lainnya yang anak lakukan. Disinilah pihak terkait harus berperan menjadikan sekolah dan pendidikan seperti magnet bagi generasi yang saling tarik menarik. Menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi generasi yang nyaman untuk ditinggali dan disinggahi. Begitulah istilah lama mengungkapkan kenyamanan sekolah.

    Sekolah dalam proses belajar mengajar juga terkadang menyajikan “beban” berat bagi para pelajar. Dari sisi waktu siswa bersekolah dari jam yang sangat pagi dan pulang pada siang atau bahkan ada yang sampai sore hari diiringi dengan seabrek pekerjaan rumah, laporan, kerja kelompok dan lain-lain. Yang membuat siswa merasakan waktu dan tenaga sangat banyak tekuras. Sementara di usia tersebut siswa juga butuh waktu untuk mengembangkan kreatifitas, minat dan bakat, ketrampilan lain yang mereka senangi yang bisa saja tidak didapatkan di sekolah. Akibatnya siswa mengalihkan diri kepada hal yang bisa menyalurkan beban mereka ke hal yang mereka senangi seperti nongkrong, joget-joget, main gim daring dan lain-lain yang kemudian melalaikan mereka dari bersekolah.

    Bergantinya kurikulum juga kerap membuat anak bingung dan hatus beradaptasi kembali. Jangankan para siswa guru saja mengalami kewalahan dalam mengikuti kurikulum yang “sat-set” ini. Adanya sistem zonasi juga menyebabkan siswa tidak bisa masuk ke sekolah yang ia inginkan. Ini juga bisa menjadi faktor hilangnya keinginan untuk bersekolah karena harus masuk di sekolah lain yang kurang ia minati.
    Alasan putus sekolah juga banyak ditemukan pada anak yang sudah bekerja. Ini juga menjadi catatan untuk pendidikan kita agar jangan sampai siswa terinstal dalam diri mereka bahwa sekolah agar mudah mencari kerja saja. Karena banyak sekali keutamaan yang didapat dari sekolah. Akibat paradigma yang salah ini mengakibatkan anak yang sudah mendapatkan kerjaan yang ia sukai atau sesuai minatnya ditambah sudah bisa menghasilkan uang menjadi “gelap mata” meninggalkan pendidikannya. Paradigma ini yang harus diubah. Bahwa sekolah untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bisa diamalkan untuk kemaslahatan manusia yang tidak akan optimal didapatkan kecuali dengan bersekolah.

    Artinya persoalan putus sekolah haruslah ditangani dengan pendekatan yang berbeda hari ini. Tidak semata-mata memberikan bantuan ekonomi atau finansial saja. Karena ditemui juga anak yang tetap tidak mau bersekolah walau diberikan uang saku dan beasiswa. Kerasnya hidup membuat anak-anak kita juga ikut memikul beban bersama keluarganya dalam mencari rezeki. Ekonomi juga berkaitan erat dengan pendidikan. Membenahi ekonomi juga bisa membenahi pendidikan.

    Pages: 1 2 3
      Ikuti kami di Facebook