
Islam Mencegah Anak Putus Sekolah
Rasulullah SAW bersabda : “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim” (HR.Ibnu Majah). Islam memandamg ilmu adalah hal yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Menuntut ilmu merupakan kewajiban yang harus ditunaikan. Jika tidak, maka ia telah berdosa dihadapan Allah. Pendidikan adalah proses dan wadah untuk mentransfer ilmu kepada masyarakat yang terstruktur dan tersistematis. Maka negara menjamin adanya pendidikan yang berkualitas di setiap wilayah.
Keseriusan Islam dalam menjalankan pendidikan dan menjamin setiap warga negara mendapatkan pendidikan juga dapat dilihat dengan adanya penggratisan biaya pendidikan dari jenjang setingkat TK hingga Universitas. Semua gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun. Hal ini berdasarkan ijma sahabat yang menjadi salah satu sumber hukum yang mewajibkan negara menjamin pembiayaan pendidikan. Hal tersebut diterapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Usman dan para penguasa berikutnya.
Selain menggratiskan biaya pendidikan, siswa juga mendapatkan uang saku setiap bulan. Seperti pada masa Khalifah Al Muhtasir di Baghdad yang mendirikan Madrasah Al Muhtashiriah setiap siswa diberikan beasiswa emas seharga 1 dinar. Dengan kurs 1gram emas 500.000 rupiah maka kala itu para siswa mendapatkan uang bulanan senilai Rp. 2.125.000. Sungguh angka yang tinggi pada masa itu. Muhammad Al Fatih Sang Penakluk Konstantinopel juga melakukan hal yang sama. Beasiswa bulanan rutin diberikan pada para siswa. (Shalabi,2004). Dan tidak ada di negeri manapun yang mempraktikkan hal serupa kecuali di negeri kaum muslimin. Demikian paripurnanya sehingga tidak akan ditemukan anak yang putus sekolah karena permasalah ekonomi.
Islam juga memiliki paradigma yang khas dalam menjalankan pendidikan. Pendidikan dalam Islam bukan semata bertujuan mencetak para pekerja yang sesuai selera pasar. Melainkan membentuk generasi yang berkepribadian Islam. Memiliki pola sikap dan pola fikir yang islami. Sehingga bertebaranlah generasi dengan karakter yang luhur dan pemikiran yang cemerlang. Pendidikan dalam Islam juga memastikan tersedianya ulama, cendekiawan dan ilmuwan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan negara. Penguasaan terhadap sains, teknologi, industri, tsaqofah Islam dan ilmu terapan lainnya menjadikan generasi menjadi generasi yang unggul dan berkualitas tinggi. Baik secara duniawi maupun ukhrowi.
Islam juga membangun sekolah-sekolah dengan sarana dan prasarana yang lengkap dan canggih pada masanya. Ini menjadikan sekolah tempat yang nyaman dan patut dikatakan sebagai rumah kedua bagi para siswa. Sebut saja perpustakaan yang dimiliki. Perpustakaan umur Cordova misalnya memiliki 400.000 buku. Perpustakaa Al-Hakim (Andalusia) memiliki 140 ruangan. Dengan masing-masing 18.000 buku disetiap ruangan.
Sejak abad IV Hijriah perguruan tinggi juga sudah dibangun dan dilengkapi dengan auditorium, asrama mahasiswa, perumahan dosen dan ulama, taman rekreasi, ruang makan dan lain-lain. Sekali lagi di belahan dunia lain belum ditemukan universitas selengkap itu pada masanya. Bahkan sejarah mencatat bahwa kaum muslimin lah yang membangun universitas pertama di dunia. Yakni Universitas Qarawiyyin di Maroko yang dibangun oleh Fatimah Al-Fihri. (Inews.id 25/07/22)
Sarana dan prasarana dibangun merata disetiap wilayah bahkan hingga ke pelosok. Siswa dan mahasiswa bersekolah dengan nyaman dan menyenangkan tanpa merasa terbebani.
Generasi juga tidak akan teracuni dengan gaya hidup yang merusak mereka. Anak-anak akan memahami bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban dan salah satu jalan untuk meraih keridhoan Allah. Paradigma inilah yang sangat penting dimiliki generasi agar tetap bersekolah. Allah juga memberikan balasan yang luar biasa kepada para penuntut ilmu. Dalam hadist digambarkan Allah memudahkan surga bagi para pencari ilmu.
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim, no. 2699).
Dengan demikian generasi akan berlomba-lomba dalam meraih pendidikan setinggi-tingginya. Mereka akan menghabiskan waktu untuk menimba ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat alih-alih menghabiskan waktu pada hal tak bermanfaat atau meraih kesenangan semu lainnya. Dengan keseriusan dan kualitas pendidikan yang dibangun negara serta adanya pemahaman yang benar dibenak generasi akan pentingnya pendidikan maka angka putus sekolah bisa diminimalisir dan bahkan bisa nihil.(*)