
Dirinya ( Farhan – red ) mencontohkan kepemimpinan Pj Bupati Bangka yang selama setahun terakhir ini dinilai gagal dalam menyelesaikan berbagai persoalan di Kabupaten Bangka.
“Gebrakannya untuk menuntaskan masalah di Kabupaten Bangka ini hampir tidak ada. Mulai dari gagal menyelesaikan defisit APBD, hingga sampai memotong gaji honorer dan TPP ASN. Jadi di mana sisi kemanusiannya itu,” tutur Farhan dengan nada tegas.
Lebih lanjut Farhan menegaskan, mencoblos kotak kosong lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya.
mencoblos kotak kosong sama saja dengan memperpanjang hasrat kekuasaan para birokrat, yang hal itu secara perlahan dan tidak langsung akan membunuh peran demokrasi itu sendiri.
“Pj kepala daerah yang ditunjuk itu yang lobinya kuat di pusat, yang tidak tahu tentang masalah di daerah, tidak kenal masyarakat serta budaya kita. Bingung, masih meraba-raba, dan kita yang rugi nanti. Karena itu lebih baik ada pemimpin yang definitif dan berdaulat, meskipun belum sempurna, daripada tidak ada kepemimpinan sama sekali, karena mudharatnya nanti lebih besar bagi daerah,” paparnya.
Bagi Farhan memilih kotak kosong juga sama halnya dengan memberikan cek kosong kepada sosok figur yang tidak dikenal masyarakat untuk memimpin Bangka ke depan.