
“Kalau kita memilih kotak kosong, istilahnya kita beri cek kosong kepada pusat untuk menunjuk pemimpin daerah kita. Iya kalau dia menguasai dan cepat belajar tentang birokasi, serta kenal budaya maupun aspirasi masyarakat kita. Tapi kalau tidak, mati lah kita,” ucapnya khawatir.
Oleh karena itu, dirinya pun turut mengajak serta menyarankan masyarakat pemilih agar memilih pemimpin yang definitif, yang memang dikenal dan dekat dengan masyarakat asli daerah.
“Pemimpin yang definitif ini suatu keharusan dan menjadi amal jariyah untuk menyelamatkan demokrasi dan daerah kita ini. Sebab pemimpin definitif kecil mudharat, tapi manfaatnya jauh lebih besar,” tutup Farhan.