
Salah satu contoh pemanfaatan kanal digital dalam ETPD adalah penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) pada penerimaan pajak dan retribusi. QRIS adalah standar kode QR yang digunakan untuk melakukan transaksi pembayaran digital di Indonesia. Dengan menggunakan QRIS, masyarakat dapat melakukan pembayaran pajak dan retribusi secara online dengan mudah dan cepat.
Selain QRIS, Kartu Kredit Indonesia (KKI) juga dapat digunakan sebagai salah satu instrumen pembayaran digital dalam belanja daerah. KKI dapat membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam pengelolaan belanja daerah, sehingga dapat meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan daerah. Pemanfaatan KKI dalam belanja daerah dapat membantu pemerintah daerah dalam melakukan pembayaran kepada penyedia barang dan jasa secara lebih cepat dan efisien. Selain itu, KKI juga dapat membantu pemerintah daerah dalam memantau penggunaan dana belanja daerah secara lebih transparan dan akuntabel.
Untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam mengimplementasikan ETPD maka Satgas P2DD menetapkan Indeks ETPD. Indeks ETPD ini digunakan untuk memetakan, memonitor dan mengukur perkembangan elektronifikasi transaksi Pemda yang meliputi aspek implementasi, realisasi, dan lingkungan strategis. Aspek implementasi mencakup kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan layanan ETPD, sedangkan aspek realisasi mencakup kemampuan pemerintah daerah dalam mengoperasikan layanan ETPD. Aspek lingkungan strategis mencakup kemampuan pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung implementasi ETPD.
Data semester II tahun 2024 menunjukkan bahwa seluruh pemerintah daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung—baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota—telah mencapai kategori digital dalam Indeks ETPD. Capaian ini mencerminkan komitmen tinggi Pemda terhadap transparansi dan tata kelola keuangan yang lebih baik.
Kinerja APBD juga terbukti berkorelasi positif dengan indeks ETPD. Semakin tinggi indeks ETPD, maka semakin baik kinerja APBD. Hal ini karena ETPD dapat meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam pengelolaan keuangan daerah, sehingga dapat meningkatkan kualitas pengelolaan APBD. Dengan demikian, pemerintah daerah dapat meningkatkan kemampuan dalam mengelola keuangan daerah secara efektif dan efisien.
Meskipun manfaat ETPD sangat besar, implementasinya tidak lepas dari tantangan. Salah satu risiko utama adalah terkait keamanan data dan risiko kebocoran informasi pribadi atau keuangan. Sistem digital yang terhubung ke jaringan internet rentan terhadap serangan siber, yang dapat mengakibatkan pencurian data, gangguan layanan, atau bahkan manipulasi data keuangan. Selain itu, implementasi ETPD juga dapat menimbulkan kesenjangan digital, di mana masyarakat yang kurang memiliki akses atau kemampuan teknologi mungkin akan kesulitan untuk berpartisipasi dan memanfaatkan layanan yang disediakan. Hal ini dapat memperburuk ketidaksetaraan dan menghambat inklusi keuangan. Lebih lanjut, perubahan sistem dan proses yang mendasar dapat menimbulkan resistensi dari pihak-pihak yang merasa terganggu dengan adanya transparansi dan akuntabilitas yang lebih tinggi.