Melampaui Emansipasi: Menakar Warisan Kartini dalam Fenomena Perempuan Pencari Nafkah Utama

    Pebri Yanasari, M.A

    Oleh:

    Perbri Yanasari, M.A.

    (Plt. Prodi BKI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS Babel)

     

    Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia merayakan Hari Kartini sebagai simbol perjuangan pendidikan dan hak-hak perempuan. Namun, esensi sejati dari surat-surat Kartini adalah kemandirian yaitu sebuah visi di mana perempuan mampu berdaulat atas hidupnya sendiri. Hari ini, visi tersebut mewujud nyata dalam fenomena female breadwinners atau perempuan sebagai pencari nafkah utama keluarga. Kemandirian ekonomi perempuan kini bukan lagi sekadar narasi pelengkap. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, proporsi female breadwinners di Indonesia telah mencapai 14,37%. Artinya, sekitar satu dari tujuh pekerja perempuan merupakan tulang punggung ekonomi bagi keluarganya. Menariknya, menjadi pencari nafkah utama tidak selalu identik dengan status orang tua tunggal; lebih dari separuh (51,36%) dari mereka berstatus menikah. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran struktural dalam pembagian peran ekonomi domestik di Indonesia. Meskipun peran ekonomi mereka vital, Komnas Perempuan mencatat bahwa posisi ini membawa kerentanan baru. Dalam Catatan Tahunan (CATAHU) 2025, Komnas Perempuan melaporkan bahwa kekerasan ekonomi mencakup 11,07% dari total kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan. Perempuan pencari nafkah seringkali terjebak dalam “beban ganda” (double burden), di mana mereka harus menanggung jam kerja yang panjang—dengan sekitar 21,07% bekerja lebih dari 49 jam per minggu—namun tetap dibebani tanggung jawab domestik yang penuh.

    Pages: 1 2 3
      Ikuti kami di Facebook