Melampaui Emansipasi: Menakar Warisan Kartini dalam Fenomena Perempuan Pencari Nafkah Utama

    Pebri Yanasari, M.A

    Ketimpangan ini sering kali berujung pada pengabaian hak dan eksploitasi di ranah personal maupun publik. Komnas Perempuan menekankan pentingnya perlindungan substantif bagi perempuan kepala keluarga untuk meminimalisir risiko kekerasan berbasis gender yang muncul akibat perubahan peran ini. Jika Kartini hidup hari ini, barangkali beliau akan tersenyum bangga, sekaligus terenyuh melihat realitas perempuan Indonesia. Beliau tidak lagi hanya melihat perempuan yang dipingit, tetapi perempuan yang tangguh melintasi aspal jalanan, memimpin rapat di korporasi, hingga mengelola usaha mikro demi asap dapur yang terus mengepul. Di momen Hari Kartini ini, mari kita bicarakan tentang sosok yang seringkali luput dari sorotan: Perempuan Pencari Nafkah Utama. Dulu, narasi yang kita dengar adalah “perempuan membantu suami”. Tapi sekarang, narasinya telah berubah. Banyak perempuan yang, karena pilihan atau keadaan, menjadi tumpuan utama ekonomi keluarga. Ini bukan lagi tentang sekadar menyalurkan hobi atau mencari uang jajan tambahan, melainkan tentang menanggung biaya pendidikan anak, cicilan rumah, hingga perawatan orang tua. Lantas, apa hubungannya dengan Kartini? Hubungannya sangat erat. Perjuangan Kartini adalah perjuangan melawan ketergantungan. Beliau ingin perempuan punya pilihan dan tidak pasrah pada nasib. Perempuan pencari nafkah adalah manifestasi hidup dari cita-cita Kartini. Mereka adalah sosok yang merdeka secara finansial. Kemandirian ini memberikan mereka posisi tawar yang lebih baik, kepercayaan diri yang lebih tinggi, dan kemampuan untuk membuat keputusan penting bagi hidup mereka.

    Namun, menjadi tulang punggung keluarga bukanlah perjalanan yang mudah bagi seorang perempuan. Masih ada pandangan miring, rasa bersalah karena meninggalkan anak di rumah, hingga kelelahan fisik dan mental karena beban ganda. Menghubungkan Kartini dengan fenomena ini adalah sebuah keharusan sejarah. Perjuangan Kartini membuka jalan bagi perempuan untuk memiliki akses terhadap pasar kerja dan kedaulatan finansial. Namun, kemandirian ini tidak boleh dibayar dengan keletihan luar biasa dan kerentanan terhadap kekerasan.

    Pages: 1 2 3
      Ikuti kami di Facebook