
Oleh: Juniati (Aktivis Dakwah Islam)
Satuan Polisi Pamong Praja (PP) kabupaten Bangka Tengah (Babel) melakukan sosialisasi dan sidak salah satu SMA beberapa waktu lalu. Dari hasil tersebut ditemukan nya 5 orang siswa yang terindikasi penggiat LGBT dan 2 orang siswi diduga penyuka sesama jenis atau lesbi. Sebelumnya ditemukan oknum guru laki-laki yang terindikasi homoseksual, mirisnya ia melakukannya dengan salah satu siswa laki-laki di sekolah tersebut. (WARTA BANGKA.ID).
LGBT adalah singkatan dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender dimana semuanya adalah penyimpangan . Selain penyimpangan LGBT bisa menularkan penyakit dan merusak generasi. Dari aktivitas nya maupun hasil perbuatannya.
Sebuah studi yang diterbitkan di Jurnal Kewarganegaraan Volume 18, Nomor 2 (2021) memaparkan data peningkatan kelompok LGBT di Indonesia. Khususnya, kalangan gay di daerah perkotaan seperti Bali, Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Disebutkan bahwa pada 2013, ada dua jaringan nasional organisasi LGBT, dan 119 organisasi di 28 dari 34 provinsi Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa eksistensi LGBT tidak bisa dipandang sebelah mata.
Jumlah yang tampak lebih kecil daripada yang sesungguhnya. Banyak sekali kasus yang serupa tetapi tidak diketahui oleh aparat berwajib. Karena penyakit penyimpangan seksual ini selalu mencari-cari mangsa untuk dijadikan korban, bahkan ada sebagian korban yang takut melaporkan karena malu dan diancam.
Seperti yang dilansir dari Bangkapos.com 52 warga di Bangka Selatan yang terinfeksi HIV/AIDS atau ODHA baru tersebut didominasi usia produktif. Bahkan 8 orang lainnya meninggal dunia karena mengidap HIV-AIDS. Mirisnya lagi kasus tertinggi di alami oleh LGBT. (bangkapos.com).
Fakta mengerikan tersebut bisa terjadi karena hilangnya perlindungan terhadap anak-anak. Padahal kasus ini terjadi disekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk anak-anak menuntut ilmu. Sungguh mengerikan seorang guru yang harusnya menjadi tempat berlindung anak-anak muridnya dan menjadi teladan, tapi malah menjadi pelaku yang memangsa anak-anak muridnya. Bayangkan anak-anak yang dididik orang tua dengan sepenuh hati, disekolah supaya menjadi generasi penerus bangsa menjadi hancur masa depan nya karena oknum guru yang tidak bermoral. Ini akan menjadi bumerang hilang la kepercayaan orang tua terhadap sekolah. Lantas akan kemana lagi orang tua akan mendidik generasi?
Sebetulnya, kerusakan semacam ini bukan tanpa alasan. Adanya guru atau siswa pegiat LGBT tidak bisa dilepaskan dari sistem kehidupan yang diterapkan, dimana mereka tinggal dan berkecimpung didalamnya. Kehidupan hari ini dibangun berasaskan sekulerisme, artinya manusia dalam menjalankan kehidupan memisahkan agama. setiap aturan hidup dibuat manusia. jadilah manusia yang walaupun beragama islam tapi berbuat tidak menggunakan aturan islam. tersangkut LGBT yang jelas diharamkan islam. kebebasan bersikap (liberalisme) yang lahir dari ideologi sekulerisme menjadikan manusia serba bebas dalam bersikap dan lainnya.
Penyimpangan LGBT adalah salah satu yang andil merusak generasi, sebab penyimpangan seksual seperti tidak berjalan sesuai dengan fitrahnya manusia. Generasi yang harusnya belajar untuk menjadi penerus bangsa justru dirusak dengan aktivitas yang menjijikan.
Inilah akibat diterapkan sistem sekulerisme. Dimana agama dipisahkan dari kehidupan. Jadi wajar LGBT dianggap bukan perbuatan kriminal. Belum lagi media-media yang bebas menampilkan orang-orang penyuka sesama jenis, bahkan konten ya g mengarah kesana semakin bebas kita temukan, baik di sosial media maupun televisi.
Sebab lainnya yakni lemahnya perlindungan keluarga terhadap generasi. Generasi cenderung tidak mendapat kasih sayang, pengurusan dan pendidikan yang penuh dari keluarga. Maka inilah yang menjadi celah masuk para LGBT untuk menjerat generasi. Yaitu dengan menawarkan perhatian dan kasih sayang. Generasi yang awal mulanya mengira teman atau abang saja ternyata telah terjebak dalam kelompok LGBT.