
INTRIK.ID, BATU BELUBANG – Gelak tawa puluhan siswa SD terdengar riuh di Desa Batu Belubang, Sabtu (13/6/2026). Mereka berlari, menyusun kata, dan saling membantu menyelesaikan permainan. Sekilas tampak seperti kegiatan bermain biasa. Namun di balik itu, terselip pelajaran penting tentang toleransi, persatuan, dan menghargai perbedaan.
Melalui kegiatan Workshop Keberagaman Budaya & Camp Ceria “Kampung Kita, Cerita Kita”, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN SAS Bangka Belitung memilih cara yang tidak biasa untuk mengenalkan nilai keberagaman kepada anak-anak SD Negeri 10 Pangkalan Baru.
Alih-alih memberikan ceramah panjang, para mahasiswa mengajak peserta belajar melalui permainan edukatif dan aktivitas kelompok yang menuntut kerja sama tanpa memandang perbedaan latar belakang.
Ketua pelaksana kegiatan, Hendri Agustian, mengatakan pendekatan tersebut sengaja dipilih agar pesan tentang toleransi lebih mudah diterima anak-anak.
“Kami ingin mereka memahami bahwa perbedaan suku, bahasa, dan budaya bukan alasan untuk terpecah. Justru itu menjadi kekayaan yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Dalam sesi materi, peserta dikenalkan pada keberagaman budaya Indonesia oleh pemateri Anja Kusuma Atmaja. Namun suasana menjadi semakin hidup saat anak-anak mengikuti permainan seperti Cari Kata Berserakan dan Estafet Balon.
Melalui permainan tersebut, mereka belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan saling menghargai teman satu tim.
Kepala Desa Batu Belubang, Ahirman, menilai kegiatan semacam ini penting untuk membentuk karakter generasi muda sejak dini.
“Nilai saling menghargai dan kebersamaan yang mereka dapatkan hari ini diharapkan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Senada, guru SD Negeri 10 Pangkalan Baru, Rumansa, menyebut kegiatan di luar kelas seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda bagi siswa.
“Anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga belajar kerja sama, tanggung jawab, dan kebersamaan,” ujarnya.
Di tengah keberagaman suku yang hidup berdampingan di Bangka Belitung, kegiatan sederhana seperti ini menjadi pengingat bahwa toleransi tidak selalu diajarkan lewat buku pelajaran. Kadang, nilai itu tumbuh dari permainan, tawa, dan kebersamaan yang dirasakan anak-anak sejak usia dini.
Bagi para mahasiswa penyelenggara, keberhasilan kegiatan ini bukan diukur dari meriahnya acara, melainkan dari lahirnya pemahaman bahwa perbedaan bukan alasan untuk berjarak, tetapi jembatan untuk saling mengenal