
INTRIK.ID, BANGKA – Sorak sorai kemenangan dan raut kecewa karena belum berhasil menjadi pemandangan yang mewarnai Pekan Olahraga dan Seni Madrasah (Porsema) III MTs Tingkat Kabupaten Bangka 2026 di MTs Al Islam Kemuja, Kamis (11/6/2026). Namun bagi kontingen MTs Plus Bahrul Ulum, ada hal yang dianggap lebih penting daripada sekadar medali: belajar menerima hasil dengan lapang dada.
Di tengah persaingan antar madrasah se-Kabupaten Bangka, siswa-siswi MTs Plus Bahrul Ulum berhasil membawa pulang sejumlah prestasi. Mereka meraih Juara 1 Lari 100 Meter Putra, Juara 1 Catur Putri, Juara 2 Syarhil Qur’an Putri, Juara 2 Cerdas Cermat, dan Juara 3 Ganda Putra Bulutangkis.
Namun tidak semua peserta merasakan podium kemenangan. Beberapa harus mengakhiri pertandingan lebih awal dan menyaksikan lawan melangkah lebih jauh. Menariknya, suasana itu justru menjadi pelajaran yang paling berkesan.
Ali Mafrohim, S.Pd.I., Kepala MTs Plus Bahrul Ulum, mengatakan pihaknya sengaja menanamkan kepada siswa bahwa tujuan mengikuti kompetisi bukan hanya mengejar trofi, tetapi juga membangun karakter.
“Kami sangat bangga dengan perjuangan anak-anak kami. Memang tidak semua cabang berbuah kemenangan, namun justru di situlah nilai pendidikannya. Mereka belajar menerima hasil dengan lapang dada, tetap menghormati lawan, dan menjaga silaturahmi. Itu adalah bekal hidup yang jauh lebih berharga,” ujarnya.
Menurut Ali Mafrohim, kemenangan memang layak disyukuri, tetapi kekalahan juga harus dipandang sebagai proses pembelajaran yang tidak kalah penting.
“Prestasi yang diraih hari ini membuktikan bahwa kerja keras dan persiapan yang matang akan membuahkan hasil. Sedangkan kekalahan mengajarkan mereka untuk mengevaluasi diri dan terus berusaha menjadi lebih baik,” katanya.
Semangat serupa terlihat di antara para peserta. Saat salah satu tim gagal meraih juara, rekan-rekan mereka justru tetap memberikan dukungan dan semangat. Tidak ada saling menyalahkan maupun rasa iri terhadap teman yang berhasil membawa pulang medali.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MTs Plus Bahrul Ulum, Ali Akbar Filayati, menilai sikap tersebut merupakan keberhasilan pendidikan karakter yang selama ini ditanamkan di lingkungan madrasah.
“Kami selalu berpesan kepada siswa untuk bertanding dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap menghargai lawan dan menerima hasil dengan ikhlas. Yang membuat kami bangga bukan hanya prestasinya, tetapi bagaimana mereka bersikap ketika menang maupun ketika belum berhasil,” ungkapnya.
Ia menyebut banyak siswa yang tetap berdiri di pinggir lapangan untuk memberi semangat kepada teman-temannya meski mereka sendiri sudah tersingkir dari perlombaan.
“Itu menunjukkan bahwa mereka memahami makna ukhuwah dan sportivitas. Mereka tidak hanya berkompetisi untuk diri sendiri, tetapi juga belajar mendukung orang lain,” tambahnya.
Bagi MTs Plus Bahrul Ulum, Porsema III bukan hanya ajang mencari juara, melainkan ruang belajar untuk membentuk pribadi yang tangguh, sportif, dan berakhlak baik. Sebab pada akhirnya, piala hanya akan tersimpan di lemari sekolah, sementara nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan persaudaraan akan terus melekat dalam diri para siswa. (*)