
Erzaldi juga membeberkan rencana pengembangan Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu, yang melibatkan keberadaan PT Timah dengan adanya Izin Usaha Pertambangan (IUP) di kawasan pengembangan. Ia meminta PT Timah untuk memanfaatkan waktu yang diberikan untuk melakukan eksplorasi dengan melakukan pengerukan, sehingga akan membantu memudahkan pendalaman alur.
“Kami akan undang PT Timah untuk kita mempersiapkan pelabuhan ini menjadi pelabuhan besar dengan menampung kapal sebesar 30.000 gross ton. Silakan selesaikan penambangan setahun ini, karena kalau tidak dikerjakan akan mengganggu alur, mempengaruhi sedimentasi. Setelah setahun tidak boleh menambang lagi di sana karena untuk alur masuk kapal,” ujarnya.
Berkenaan dengan royalti yang diterima daerah dari PT Timah, juga tidak luput dalam diskusi tersebut. Dikatakan orang nomor satu di Babel itu, merupakan hal yang wajar jika Babel ‘menagih’ royalti yang lebih besar dari hasil penambangan yang selama ini dilakukan di Bumi Serumpun Sebalai. Begitu pula dengan keinginan adanya saham di PT Timah, dan beberapa polemik yang melibatkan para kolektor timah juga dibahas pada kesempatan itu.
“Karena jujur saja pak, ada luka di hati masyarakat ketika royalti yang tidak sebanding, di saat bumi mereka hancur. Mari kita duduk bersama untuk membahas ini agar semuanya akan seiring sejalan, antara program pemerintah daerah dengan tupoksi PT Timah yang tidak lain tujuannya adalah untuk kesejahteraan masyarakat kita,” katanya.