
INTRIK.ID, PANGKALPINANG — Ancaman kebakaran lahan di Kota Pangkalpinang meningkat seiring kemarau yang berkepanjangan. Sepanjang Agustus 2026, tercatat 121 lokasi mengalami kebakaran, angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Kepala Pelaksana Harian (Kalahar) BPBD Kota Pangkalpinang, Dedy Revandi, mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kebakaran. Suhu tinggi, angin kencang, serta kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar.
“Karena musim kemarau yang berkepanjangan, banyak lahan yang kering. Ini membuat potensi kebakaran semakin tinggi,” kata Dedy saat Rakor Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Smart Room Center Kota Pangkalpinang.
Selain faktor alam, aktivitas manusia juga menjadi penyumbang munculnya titik api. Dedy menyebut masih ditemukan masyarakat yang membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Selain itu, membuang puntung rokok sembarangan hingga membakar sampah juga berpotensi memicu kebakaran.
Tiga wilayah disebut memiliki potensi kemunculan titik api yang cukup tinggi, yakni Kecamatan Bukit Intan, Gabek, dan Gerunggang.
“Faktornya ada alam, seperti kemarau, suhu tinggi dan angin kencang. Tetapi faktor manusia juga cukup besar, seperti membuka lahan dengan cara dibakar, membuang puntung rokok sembarangan, dan membakar sampah,” ujarnya.
Memasuki September, kejadian kebakaran masih terus terjadi. Hingga 7 September 2026, BPBD mencatat sudah ada 13 kejadian kebakaran di wilayah Pangkalpinang.
Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan menjadi penting, terutama karena sebagian lahan kering berada tidak jauh dari kawasan permukiman.
Di sisi lain, BPBD Kota Pangkalpinang masih menghadapi keterbatasan armada. Saat ini BPBD hanya memiliki satu mobil suplai air dan belum memiliki mobil pemadam kebakaran sendiri.
Mobil tersebut selama ini digunakan untuk mendukung kebutuhan penanganan kebakaran, termasuk menyuplai air bagi petugas pemadam kebakaran. Namun, kendaraan yang sama juga harus digunakan untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
“Mobil suplai itu selain untuk menyuplai air bagi pihak damkar, juga digunakan untuk suplai air kepada masyarakat yang mengalami kesulitan air,” jelas Dedy.
Keterbatasan tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah meningkatnya kejadian kebakaran selama musim kemarau.
Karena itu, BPBD mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta lebih berhati-hati terhadap aktivitas yang dapat memicu api, termasuk membakar sampah dan membuang puntung rokok sembarangan.
Upaya pencegahan dinilai menjadi langkah penting agar kebakaran tidak meluas, terlebih titik api muncul di sejumlah wilayah yang berdekatan dengan permukiman warga.