
INTRIK.ID, BABEL – Bagi warga Desa Perlang, persoalannya bukan sekadar pekerjaan. Mereka merasa menjadi penonton di kampung sendiri saat perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi di wilayah mereka dinilai belum memberi ruang yang cukup bagi tenaga kerja lokal.
Kekecewaan itu memuncak dalam aksi unjuk rasa yang digelar ratusan warga di depan area operasional PT PSM, Selasa (16/6/2026). Salah satu isu yang paling banyak disuarakan adalah keberadaan sistem yang dikenal warga sebagai “supir tembak”, yang disebut membuat kesempatan kerja bagi warga lokal semakin sempit.
“Kami bukan menolak investasi. Kami hanya ingin warga Perlang mendapat kesempatan yang adil untuk bekerja di tanah sendiri,” kata Sodikin, salah seorang peserta aksi.
Menurut warga, keberadaan perusahaan seharusnya tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan dan investor, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja yang nyata bagi masyarakat sekitar.
Aksi tersebut menjadi sinyal bahwa persoalan hubungan perusahaan dan masyarakat bukan lagi soal kompensasi, melainkan soal rasa keadilan dalam memperoleh kesempatan kerja.