
Dari sisi neraca, total aset perseroan meningkat 6,75 persen menjadi Rp13,64 triliun dari Rp12,78 triliun. Posisi Liabilitas Perseroan sebesar Rp5,23 triliun naik 0,80 persen daro Rp5,19 triliun. Sementara ekuitas naik 10,83 persen menjadi Rp8,41 triliun dari Rp7,59 triliun, seiring dibukukannya laba di tahun 2025.
Kinerja ini turut didukung oleh rasio keuangan yang solid, di antaranya Quick Ratio 60,6 persen, Current Ratio sebesar 242,8 persen dan Debt to Equity Ratio sebesar 18,7 persen.
Pada tahun 2025, Perseroan juga terus melakukan efisiensi dan optimalisasi biaya dalam bentuk penurunan fixed costmelalui investasi selektif ke investasi penunjang operasi untuk memitigasi kenaikan beban depresiasi dan menjaga stabilitas arus kas. Selain itu, Perseroan juga melakukan penurunan interest bearing debt sebagai bagian dari strategi pengelolaan liabilitas, sehingga dapat menekan beban bunga antara lain melalui pelaksanaan buyback atas MTN.
Di sisi operasional, PT Timah mencatat produksi bijih timah sebesar 18.635 ton Sn, produksi logam timah sebesar 17.815 metrik ton, sementara penjualan logam timah tercatat 16.634 metrik ton.
Sepanjang 2025, pasar ekspor masih menjadi kontributor utama dengan porsi mencapai 95 persen, dengan negara tujuan utama antara lain Singapura, Korea Selatan, Jepang, Belanda, Italia, dan China. Kontribusi penjualan ekspor Perseroan mencapai sekitar 24% dari total ekspor timah Indonesia sebesar 53.050 metrik ton, serta menyumbang sekitar 3% dari total ekspor timah global sebesar 371.369 metrik ton.