
Masalahnya, kata dia, ada aktivis yang justru berhenti pada posisi sebagai antitesis.
“Para aktivis yang saklek menyatakan dirinya antitesis terhadap apa yang sedang berjalan. Mereka berhenti kepada antitesis,” tegasnya.
Bambang menilai mengambil posisi berbeda memang membuat seseorang terlihat kritis. Namun, keberanian berbeda pendapat tidak cukup jika tidak disertai kemampuan mempertanggungjawabkan argumen.
“Paling gampang itu memposisikan diri sebagai antitesis karena terlihat Anda berbeda. Tetapi ingat, saklek itu didasari dengan rasionalitas,” tambahnya.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa menjadikan perbedaan sebagai pintu masuk untuk menguji gagasan, bukan sekadar memperkeras penolakan.
Perbedaan pandangan perlu dibawa dalam komunikasi dua arah. Masing-masing pihak harus menguji dasar pemikirannya agar benturan gagasan tidak berhenti sebagai konflik pendapat, tetapi dapat menghasilkan rumusan yang lebih baik.
Bambang juga mengingatkan mahasiswa yang nantinya terlibat dalam penyusunan regulasi agar tidak hanya mengandalkan keberanian berbicara.
Kemampuan membaca data dan menganalisis informasi menjadi modal penting untuk menghasilkan keputusan, termasuk ketika menyusun ketentuan dalam regulasi.