
“Tidak mungkin saya bisa membahas, menganalisis sebuah kalimat di dalam pasal-pasal kalau saya tidak didasari dengan rasionalitas, dengan data, dengan dukungan informasi,” ujarnya.
Menurut Bambang, keputusan yang baik membutuhkan lebih dari sekadar keberanian mengambil sikap.
Jaringan diperlukan untuk membuka ruang komunikasi. Pengetahuan dan rasionalitas dibutuhkan untuk menguji gagasan. Sementara komitmen dan daya fisik diperlukan agar gagasan tidak berhenti di ruang diskusi.
“Di dalam menghasilkan keputusan yang baik diperlukan, pertama, jaringan yang baik; kedua, pengetahuan yang baik dengan rasionalitas. Lalu ditambah lagi harus punya komitmen dan daya fisik yang bagus,” jelasnya.
Dengan demikian, Bambang mendorong mahasiswa untuk tidak menjadikan penolakan sebagai tujuan akhir aktivisme.
Sikap kritis tetap diperlukan, tetapi harus mampu menjawab persoalan yang lebih sulit: apa gagasan penggantinya, apa dasar datanya dan bagaimana solusi tersebut dapat diterapkan.