
JAKARTA, INTRIK.ID — Pasar modal Indonesia memasuki usia 49 tahun dengan sebuah paradoks. Di tengah tekanan global yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan, jumlah masyarakat yang masuk ke pasar modal justru melonjak hingga 30,3 juta investor.
Data tersebut tercatat hingga 7 Agustus 2026. Jumlah investor itu meningkat sekitar 9,9 juta dibandingkan periode sebelumnya dan disebut sebagai pertumbuhan tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,4 juta investor tercatat aktif bertransaksi setiap bulan.
Pertumbuhan itu menjadi salah satu sinyal bahwa gejolak pasar belum menyurutkan minat masyarakat terhadap investasi.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica W. Dewi menilai pertumbuhan jumlah investor tidak sekadar menunjukkan peningkatan secara kuantitas.
Menurutnya, angka tersebut juga mencerminkan adanya kepercayaan, keyakinan, dan harapan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia.
Namun, pertumbuhan investor tersebut berlangsung ketika pasar saham menghadapi tekanan cukup berat.
Pada perdagangan 7 Agustus 2026, IHSG ditutup di level 6.409,65, atau turun 25,87 persen secara year-to-date. Tekanan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari ketidakpastian geopolitik, dinamika suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah hingga perubahan preferensi investor terhadap aset berisiko.
Meski demikian, pasar modal Indonesia sempat mencatat sejumlah rekor. IHSG membukukan sembilan kali rekor all-time high sepanjang Januari 2026 dan mencapai level tertinggi baru 9.134,70 pada 20 Januari 2026.
Kapitalisasi pasar juga sempat menyentuh rekor Rp16.640 triliun pada 19 Januari 2026, sedangkan frekuensi transaksi saham tertinggi mencapai 5,01 juta transaksi dalam sehari.
Dari sisi penghimpunan dana, pasar modal juga tetap menunjukkan aktivitas. Hingga 2026 tercatat tujuh saham baru, termasuk satu Lighthouse Initial Public Offering (IPO), sehingga jumlah perusahaan tercatat mencapai 962 perusahaan. Total dana yang dihimpun melalui pasar modal mencapai Rp122,8 triliun.
Momentum HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia juga ditandai dengan peluncuran ETF Emas perdana di pasar modal Indonesia.
Lima produk ETF Emas resmi tercatat di Bursa, memberikan alternatif bagi investor untuk memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen yang diperdagangkan di Bursa tanpa harus memiliki emas secara fisik.
Kehadiran instrumen tersebut diharapkan memperluas pilihan diversifikasi investasi, memperkuat pengelolaan risiko portofolio, sekaligus memperluas akses bagi investor ritel maupun institusi.
Mengusung tema “Transformasi Berkelanjutan untuk Pasar Modal Tepercaya dan Tangguh”, OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI), KPEI dan KSEI menegaskan komitmen memperkuat kualitas, integritas, efisiensi serta daya saing pasar modal Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan momentum tersebut penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian dan pasar keuangan Indonesia.
Sementara Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan pemerintah akan terus bersinergi dengan OJK, BEI dan pelaku pasar untuk membangun pasar keuangan yang lebih dalam, inklusif dan inovatif, namun tetap prudent dan kredibel.
Dengan jumlah investor yang telah menembus 30,3 juta, tantangan pasar modal Indonesia ke depan bukan lagi sekadar mengejar pertumbuhan jumlah investor, tetapi memastikan semakin banyak masyarakat menjadi investor yang aktif, memahami risiko dan memiliki kepercayaan terhadap ekosistem pasar modal nasional.