
Di kawasan Lumut, Malaysia, kondisi cuaca memburuk. Kabut tebal menghalangi pandangan hingga pesawat mengalami kecelakaan di kawasan Labuhan Bilik Besar, Tanjung Hantu.
Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi gugur dalam kecelakaan tersebut.
Kepergian keduanya menjadi kehilangan besar bagi Indonesia yang saat itu masih berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Jenazah Halim kemudian sempat dimakamkan di Malaysia sebelum akhirnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 1975.
Pengorbanan Halim Perdanakusuma kemudian diabadikan dalam sejarah Indonesia.
Lapangan Udara Tjililitan di Jakarta yang menjadi salah satu pangkalan penerbangan penting kemudian menggunakan nama Halim Perdanakusuma.
Kini, nama tersebut lebih dikenal jutaan masyarakat sebagai nama bandara yang menjadi salah satu pintu penerbangan di Jakarta.
Namun, di balik nama bandara itu terdapat kisah seorang penerbang yang memilih meninggalkan kenyamanan hidup setelah Perang Dunia II dan kembali ke Indonesia untuk membantu mempertahankan kemerdekaan.