
“Pelatihan sudah masuk gelombang kedua. Jadi tidak hanya belajar mengolah nanas, tetapi juga bagaimana produk ini bisa memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan berkelanjutan,” katanya.
Program ini sekaligus menjadi upaya meningkatkan kesejahteraan petani nanas lokal. Selama ini, buah nanas Tua Tunu banyak dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang sering berfluktuasi.
Padahal di tingkat konsumen luar daerah, harga nanas bisa berlipat ganda dibanding harga yang diterima petani.
Dengan hadirnya UMKM olahan berbasis nanas, pemerintah berharap nilai tambah komoditas unggulan Tua Tunu dapat dinikmati langsung oleh masyarakat setempat.