Antrean Pertalite Mengular di Koba, Warga Mulai Tinggalkan Pertamax

    INTRIK.ID, BANGKA TENGAH – Kenaikan harga Pertamax mulai mengubah kebiasaan masyarakat di Bangka Tengah. Jika sebelumnya banyak pengendara memilih BBM nonsubsidi demi performa kendaraan, kini sebagian mulai beralih ke Pertalite yang lebih terjangkau.

    Dampaknya terlihat di sejumlah SPBU di kawasan Koba, terutama SPBU Nibung dan Berok, yang mengalami lonjakan antrean kendaraan pada jalur pengisian Pertalite.

    Perbedaan harga yang cukup lebar menjadi alasan utama. Saat harga Pertamax mencapai Rp16.650 per liter, Pertalite masih berada di angka Rp10.000 per liter. Selisih Rp6.650 per liter dinilai cukup besar bagi masyarakat yang setiap hari bergantung pada kendaraan pribadi.

    Rian (29), warga Koba, mengaku kini terpaksa meninggalkan Pertamax yang selama ini menjadi pilihannya.

    Space Iklan/0853-1197-2121

    “Dulu saya selalu isi Pertamax. Tapi sekarang harus hitung-hitungan lagi. Dengan kondisi sekarang, saya memilih Pertalite supaya pengeluaran bulanan tidak terlalu berat,” ujarnya saat mengantre di SPBU Nibung.

    Menurutnya, kenaikan harga BBM nonsubsidi terasa langsung terhadap pengeluaran rumah tangga, terutama bagi pekerja yang setiap hari menggunakan kendaraan untuk beraktivitas.

    Fenomena serupa juga dirasakan banyak pengendara lain. Jalur pengisian Pertalite terlihat lebih padat dibandingkan jalur Pertamax yang relatif lengang.

    Seorang petugas SPBU yang enggan disebutkan namanya mengatakan terjadi peningkatan jumlah konsumen Pertalite dalam beberapa hari terakhir setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

    Space Iklan/0853-1197-2121

    “Memang terlihat ada pergeseran. Banyak pelanggan yang biasanya isi Pertamax sekarang beralih ke Pertalite,” katanya.

    Bagi masyarakat Bangka Tengah, kendaraan pribadi masih menjadi sarana transportasi utama karena keterbatasan transportasi umum. Kondisi itu membuat pengeluaran untuk bahan bakar menjadi salah satu komponen penting dalam kebutuhan sehari-hari.

    Akibatnya, setiap kenaikan harga BBM langsung memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

    Rian berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga daya beli masyarakat di tengah meningkatnya berbagai kebutuhan hidup.

    “Kami paham harga mengikuti kondisi pasar. Tapi masyarakat juga berharap ada solusi agar biaya hidup tidak terus bertambah berat,” katanya.

    Sementara itu, antrean di sejumlah SPBU diperkirakan masih akan terjadi selama masyarakat terus menyesuaikan pola konsumsi BBM mereka pascakenaikan harga Pertamax. Bagi sebagian warga, beralih ke Pertalite saat ini menjadi pilihan paling realistis untuk menjaga pengeluaran tetap terkendali. (*)

    Mungkin Suka Ini juga:
    Supir Tembak Jadi Pemicu Kemarahan Warga Perlang, PT PSM Didemo

    Supir Tembak Jadi Pemicu Kemarahan Warga Perlang, PT PSM Didemo

    Dituding Bobolkan Tong Timah, Cepot :  Maklum Pemain Baru Bisnis Timah, Belum Paham Penyusutan Kadar Air

    Dituding Bobolkan Tong Timah, Cepot : Maklum Pemain Baru Bisnis Timah, Belum Paham Penyusutan Kadar Air

    Terdampar 8 Jam di Tengah Laut, Tiga ABK KM Sebanyak Selamat Dievakuasi Tim SAR

    Terdampar 8 Jam di Tengah Laut, Tiga ABK KM Sebanyak Selamat Dievakuasi Tim SAR

    Mesin Mati 21 Mil dari Daratan, Tiga Penumpang KM Sebanyak Terombang-Ambing di Laut Bebuar

    Mesin Mati 21 Mil dari Daratan, Tiga Penumpang KM Sebanyak Terombang-Ambing di Laut Bebuar

    Pencarian Berakhir Nihil, Misteri Hilangnya Warga Desa Tugang Belum Terpecahkan

    Pencarian Berakhir Nihil, Misteri Hilangnya Warga Desa Tugang Belum Terpecahkan

    Hari Keempat Pencarian Kamaludin, Tim SAR Gabungan Perluas Area hingga 14 Km² di Bangka Barat

    Hari Keempat Pencarian Kamaludin, Tim SAR Gabungan Perluas Area hingga 14 Km² di Bangka Barat