
Secara empiris, masyarakat Bangka Belitung mengalami kendala serius dalam menjalankan aktivitas harian. Banyak pekerja dari berbagai sektor tidak dapat berangkat kerja, mahasiswa terhambat mengikuti perkuliahan, dan anak-anak terpaksa absen sekolah karena kendaraan orang tua mereka tidak memiliki BBM. Jika tidak segera ditangani, maka akan terjadi penurunan mobilitas dan berpotensi mengurangi produktivitas kerja masyarakat secara luas.
Ironisnya, harga BBM di tingkat eceran melonjak drastis. Padahal, harga resmi di SPBU tetap Rp10.000 per liter, namun di lapangan harga dapat mencapai Rp 15.000 (kategori masih bisa diterima, mengingat antre dan langka), sedangkan beberapa titik di toko eceran tertentu ada yang mencapai Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter. Lonjakan hampir dua kali lipat ini memperberat beban warga.
Kenaikan harga memang bisa terjadi saat pasokan BBM seret, tetapi tetap harus berada pada batas kewajaran agar masyarakat tetap memiliki kemudahan dalam mendapatkan/membeli BBM.