Siswa SMAN 1 Pangkalan Baru Diingatkan Bahaya Echo Chamber, Beranda Media Sosial Bisa Membatasi Sudut Pandang

    INTRIK.ID, BANGKA TENGAH — Apa yang muncul di beranda media sosial belum tentu menggambarkan seluruh sudut pandang yang ada. Siswa SMAN 1 Pangkalan Baru diingatkan mengenai fenomena echo chamber, kondisi ketika seseorang terus-menerus menerima informasi dan pandangan yang semakin sesuai dengan keyakinannya sendiri.

    Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat Tingkat Jurusan (PMTJ) Universitas Bangka Belitung (UBB) bertajuk “Penguatan Civic Engagement Siswa SMA melalui Literasi Digital dalam Menghadapi Echo Chamber Media Sosial”, Jumat (18/9/2026).

    Kegiatan yang digelar di SMAN 1 Pangkalan Baru itu diikuti siswa kelas X.5. Para peserta diajak memahami bagaimana kebiasaan menggunakan media sosial dan sistem rekomendasi platform digital dapat memengaruhi informasi yang mereka lihat setiap hari.

    Dalam penggunaan sehari-hari, media sosial tidak hanya menjadi ruang hiburan. Platform digital juga menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi, menyampaikan pendapat, berdiskusi hingga mengikuti berbagai persoalan sosial dan kewarganegaraan.

    Masalahnya, ketika seseorang lebih sering mendapatkan informasi yang sejalan dengan pandangannya, ia bisa semakin jarang berhadapan dengan perspektif berbeda.

    Kondisi inilah yang disebut echo chamber.

    Jangan Percaya Begitu Saja pada Isi Beranda

    Tim PMTJ mengajak siswa untuk tidak langsung menerima setiap informasi yang muncul di media sosial.

    Siswa didorong mengecek sumber informasi, membandingkan informasi dari berbagai sumber, mencari perspektif berbeda, mengevaluasi bukti dan berpikir kritis sebelum membagikan suatu informasi.

    Antusiasme siswa terlihat saat sesi diskusi. Mereka aktif memberikan tanggapan dan bertanya mengenai hubungan antara kebiasaan bermedia sosial dengan informasi yang muncul di beranda masing-masing.

    Pembahasan tersebut menjadi penting karena algoritma rekomendasi pada platform digital dapat memengaruhi jenis konten yang lebih sering ditemui pengguna.

    Dengan memahami hal tersebut, siswa diharapkan tidak menganggap apa yang terus muncul di beranda sebagai satu-satunya gambaran mengenai suatu persoalan.

    Literasi Digital Dikaitkan dengan Keterlibatan Warga

    Materi yang diberikan tidak hanya membahas cara menyaring informasi, tetapi juga menghubungkannya dengan civic engagement atau keterlibatan kewarganegaraan.

    Siswa diajak memahami bahwa menjadi warga negara di era digital tidak cukup hanya aktif menggunakan media sosial.

    Keterlibatan sebagai warga juga mencakup kepedulian terhadap persoalan di sekitar, kemampuan memahami isu publik, menyampaikan pendapat secara santun, mendengarkan pandangan yang berbeda dan berpartisipasi secara bertanggung jawab.

    Artinya, ruang digital tidak hanya menjadi tempat untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga menjadi ruang belajar untuk memahami perbedaan.

    Untuk membuat kegiatan lebih interaktif, tim PMTJ menghadirkan ice breaking dan kuis. Kegiatan tersebut sekaligus digunakan untuk mengukur pemahaman siswa mengenai echo chamber, literasi digital dan civic engagement.

    Kegiatan mendapat sambutan dari pihak sekolah. Tim PMTJ diterima Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Sri Purwati, serta Kepala SMAN 1 Pangkalan Baru, Asrobianti, S.Pd., M.M.

    Tim PMTJ terdiri dari dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) FISIP UBB, yakni Tri Indrayati sebagai ketua, bersama anggota Dini Oktariani dan Hanifa Intan Desiga.

    Pelaksanaan kegiatan juga dibantu dua mahasiswa, Garlan Valentino Ante dan Putri Salsabila.

    Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna media sosial yang aktif, tetapi juga mampu menjadi warga digital yang kritis, terbuka terhadap perbedaan perspektif dan bertanggung jawab.

    Sebab, semakin mudah seseorang mendapatkan informasi yang sesuai dengan pandangannya, semakin penting pula kemampuan untuk secara sadar mencari sumber dan sudut pandang lain sebelum mengambil kesimpulan.(*)

      Ikuti kami di Facebook