
Harga saham setelah tercatat pun dapat bergerak fluktuatif mengikuti permintaan dan penawaran di pasar.
Kondisi tersebut membuat investor perlu memiliki ekspektasi yang realistis dan tidak menjadikan pergerakan harga dalam jangka pendek sebagai satu-satunya dasar keputusan.
Menurut Listyorini, IPO seharusnya tidak dipandang hanya sebagai momentum pada hari pertama perdagangan. IPO merupakan titik awal perjalanan perusahaan sebagai perusahaan terbuka.
Setelah IPO, perusahaan diharapkan dapat menjalankan berbagai aksi korporasi lanjutan, tumbuh bersama pasar modal Indonesia dan memanfaatkan pasar modal sebagai house of growth untuk mendukung pengembangan usaha secara berkelanjutan.
Bagi investor, momentum IPO dapat menjadi bagian dari strategi membangun portofolio, tetapi tetap membutuhkan analisis yang menyeluruh.
Prospektus, model bisnis, valuasi dan risiko menjadi empat hal utama yang perlu dipahami sebelum membeli saham IPO.
Informasi mengenai perusahaan yang sedang melaksanakan IPO, jadwal penawaran umum dan dokumen prospektus dapat diakses melalui e-IPO maupun situs resmi BEI.
Pada akhirnya, mengikuti IPO bukan sekadar soal menjadi yang cepat membeli saham baru. Yang lebih penting adalah memahami perusahaan yang dibeli, mengetahui bagaimana bisnisnya menghasilkan keuntungan, menilai harga secara rasional dan memahami risiko yang mungkin muncul setelah saham diperdagangkan di Bursa.(*)