Saham IPO Tak Selalu Cuan, BEI Ingatkan Investor Jangan Terjebak Euforia Hari Pertama

    Caption: Grafik investasi dalam bursa saham. (Ilustrasi)

    INTRIK.ID, JAKARTA — Ramainya perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) membuat saham IPO semakin menarik perhatian investor. Namun, di balik potensi kenaikan harga pada awal perdagangan, BEI mengingatkan bahwa saham IPO tidak otomatis menguntungkan dan tetap memiliki risiko.

    Hingga akhir Agustus 2026, BEI mencatat tujuh perusahaan telah resmi mencatatkan sahamnya di Bursa dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun. Sementara itu, masih terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline IPO.

    Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Listyorini Dian Pratiwi, mengatakan bertambahnya perusahaan yang melakukan IPO menunjukkan pasar modal masih menjadi salah satu alternatif pendanaan bagi dunia usaha.

    Di sisi lain, semakin banyak perusahaan tercatat juga memberikan lebih banyak pilihan investasi bagi masyarakat untuk melakukan diversifikasi portofolio.

    Meski demikian, antusiasme terhadap saham baru perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap risiko. Kenaikan harga saham pada hari pertama perdagangan, misalnya, belum tentu menggambarkan nilai fundamental perusahaan atau menjamin kinerja saham dalam jangka panjang.

    Setelah tercatat di BEI, harga saham bergerak berdasarkan mekanisme permintaan dan penawaran. Pergerakannya dapat dipengaruhi oleh kinerja perusahaan, kondisi industri, situasi ekonomi hingga sentimen pasar.

    Karena itu, membeli saham hanya karena sedang ramai atau mengalami kenaikan pada awal perdagangan dapat membuat investor mengabaikan kondisi fundamental perusahaan.

    Jangan Cuma Lihat Harga IPO

    Listyorini menyarankan investor memulai dengan mempelajari prospektus perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.

    Prospektus memuat berbagai informasi penting, mulai dari profil perusahaan, bidang usaha, kondisi keuangan, strategi bisnis, penggunaan dana hasil IPO hingga risiko yang dihadapi perusahaan.

    Penggunaan dana hasil IPO juga menjadi bagian yang perlu dicermati. Dana tersebut dapat digunakan untuk ekspansi, belanja modal, pembayaran utang maupun kebutuhan lain sesuai rencana perusahaan.

    Tidak berhenti pada prospektus, investor juga perlu memantau penggunaan dana setelah perusahaan tercatat melalui Laporan Realisasi Penggunaan Dana (LRPD), sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 40 Tahun 2025 tentang Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.

    Selain itu, investor perlu memahami bagaimana perusahaan menghasilkan pendapatan.

    Target pasar, sumber pendapatan, keunggulan kompetitif dan strategi pengembangan bisnis menjadi sejumlah aspek yang dapat diperhatikan. Prospek industri tempat perusahaan beroperasi juga perlu dilihat karena kondisi sektor turut memengaruhi ruang pertumbuhan perusahaan.

    Harga Murah Belum Tentu Murah

    Hal lain yang tak kalah penting adalah valuasi.

    Harga saham yang ditawarkan dalam IPO tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan apakah saham tersebut murah atau mahal.

    Investor perlu melihat harga tersebut dalam kaitannya dengan fundamental dan nilai perusahaan. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah membandingkan valuasi dengan perusahaan tercatat lain yang memiliki karakteristik atau bergerak pada sektor serupa.

    Sejumlah rasio seperti Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) dapat menjadi bahan pertimbangan dengan tetap memperhatikan karakteristik masing-masing perusahaan.

    Dengan demikian, fokus investor bukan semata mencari saham dengan harga penawaran rendah, tetapi melihat apakah harga tersebut sebanding dengan fundamental dan potensi pertumbuhan perusahaan.

    IPO Tetap Punya Risiko

    Sebagai perusahaan yang baru memasuki pasar modal, emiten hasil IPO tetap menghadapi berbagai risiko, baik yang berasal dari internal perusahaan maupun perubahan kondisi ekonomi dan industri.

    Harga saham setelah tercatat pun dapat bergerak fluktuatif mengikuti permintaan dan penawaran di pasar.

    Kondisi tersebut membuat investor perlu memiliki ekspektasi yang realistis dan tidak menjadikan pergerakan harga dalam jangka pendek sebagai satu-satunya dasar keputusan.

    Menurut Listyorini, IPO seharusnya tidak dipandang hanya sebagai momentum pada hari pertama perdagangan. IPO merupakan titik awal perjalanan perusahaan sebagai perusahaan terbuka.

    Setelah IPO, perusahaan diharapkan dapat menjalankan berbagai aksi korporasi lanjutan, tumbuh bersama pasar modal Indonesia dan memanfaatkan pasar modal sebagai house of growth untuk mendukung pengembangan usaha secara berkelanjutan.

    Bagi investor, momentum IPO dapat menjadi bagian dari strategi membangun portofolio, tetapi tetap membutuhkan analisis yang menyeluruh.

    Prospektus, model bisnis, valuasi dan risiko menjadi empat hal utama yang perlu dipahami sebelum membeli saham IPO.

    Informasi mengenai perusahaan yang sedang melaksanakan IPO, jadwal penawaran umum dan dokumen prospektus dapat diakses melalui e-IPO maupun situs resmi BEI.

    Pada akhirnya, mengikuti IPO bukan sekadar soal menjadi yang cepat membeli saham baru. Yang lebih penting adalah memahami perusahaan yang dibeli, mengetahui bagaimana bisnisnya menghasilkan keuntungan, menilai harga secara rasional dan memahami risiko yang mungkin muncul setelah saham diperdagangkan di Bursa.(*)

      Ikuti kami di Facebook