
INTRIK.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akhirnya menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Pelemahan ini menandai posisi terburuk rupiah sepanjang sejarah sekaligus menjadi alarm bagi perekonomian nasional.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah ke level Rp18.003 per dolar AS dan bahkan sempat menyentuh kisaran Rp18.015 per dolar AS pada perdagangan pagi. Angka tersebut melampaui rekor pelemahan sebelumnya yang terjadi sehari sebelumnya saat rupiah ditutup di level Rp17.966 per dolar AS.
Data Google Finance juga menunjukkan dolar AS sempat diperdagangkan di atas level Rp18.000, memperkuat sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut.
Pelemahan rupiah telah berlangsung sejak awal tahun 2026. Pada Januari lalu, nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp16.600 per dolar AS. Dalam kurun waktu sekitar lima bulan, rupiah telah kehilangan lebih dari Rp1.300 terhadap dolar AS.
Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab utama anjloknya rupiah, mulai dari penguatan dolar AS secara global, keluarnya arus modal asing dari pasar negara berkembang, meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia, hingga sentimen negatif yang menekan pasar keuangan domestik. Kondisi tersebut juga berdampak pada anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Bank Indonesia menyatakan terus melakukan langkah stabilisasi di pasar keuangan untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali. Otoritas moneter memastikan akan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan guna menjaga kecukupan likuiditas valuta asing dan stabilitas sistem keuangan nasional.
Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, menekan industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri, serta mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas. Namun di sisi lain, kondisi ini dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.