
INTRIK.ID, BABEL – Di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tarif angkutan udara, dan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, tingkat inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tetap terjaga dan berada dalam rentang sasaran nasional.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Bangka Belitung pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,06 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 2,46 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut masih berada dalam target inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Capaian ini juga menempatkan Bangka Belitung sebagai provinsi dengan tingkat inflasi tahunan terendah keenam di Indonesia. Secara nasional, inflasi tercatat sebesar 3,08 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan Bangka Belitung.
Secara bulanan, inflasi dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi. Kondisi ini dipengaruhi kebijakan penyesuaian biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) angkutan udara domestik akibat meningkatnya harga avtur. Selain itu, kenaikan harga BBM non-subsidi oleh PT Pertamina yang mulai berlaku pada 4 Mei 2026 turut memberikan andil terhadap inflasi.
Tak hanya itu, meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Idul Adha juga menyebabkan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah dan bawang merah mengalami kenaikan.
Sementara secara tahunan, inflasi di Bangka Belitung terutama dipengaruhi kenaikan harga pada Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang tumbuh 6,65 persen. Kenaikan tersebut didorong oleh harga emas perhiasan yang masih berada pada level tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau mengalami inflasi sebesar 5,02 persen, terutama akibat kenaikan harga komoditas cumi-cumi. Sedangkan Kelompok Transportasi mencatat inflasi 2,77 persen yang dipengaruhi kenaikan tarif angkutan udara.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, mengatakan pihaknya bersama Pemerintah Daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat langkah pengendalian inflasi agar tetap berada pada level yang rendah dan stabil.
Menurut Rommy, berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari pemantauan harga harian dan mingguan, pelaksanaan Operasi Pasar Murah (OPM), hingga Gerakan Pangan Murah (GPM) yang telah digelar sebanyak 60 kali di berbagai daerah.
“Langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap dapat mengakses kebutuhan pangan dengan harga yang terjangkau melalui prinsip tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat komoditas,” ujarnya.
Selain menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia juga terus melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM, khususnya di sektor pertanian, guna mendukung program ketahanan pangan nasional.
Edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya bijak berbelanja dan bijak mengonsumsi juga terus digencarkan sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi.
Rommy menambahkan, penguatan strategi 4K pengendalian inflasi, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, akan terus dioptimalkan untuk mendukung berbagai program strategis pemerintah.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan inflasi ke depan masih cukup besar akibat ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik internasional.
Karena itu, menurutnya, penguatan Optimisme, Komitmen, dan Sinergi (OKS) antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan harus terus dijaga agar inflasi tetap terkendali.
“Inflasi yang rendah dan stabil menjadi modal penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah di tengah berbagai tantangan global,” kata Rommy.