
Jadi sudah cukup dan berhenti lah menarasikan logika-logika cacat ke masyarakat. Membawa masyarakat ke dalam ilusi dan distopia dengan menebar isu kalau calon tunggal akan bangun hegemoni politik lah, fungsi kontrol DPRD akan mandul karena koalisi tunggal lah, implementasi APBD akan macet dan sebagainya lah.
Ini terlalu menyedihkan di tengah kondisi ekonomi kita yang sedang butuh pemulihan. Alih-alih meneror masyarakat kita dengan kecemasan dan ketidakpastian, sebagai insan manusia semestinya lebih baik memberikan optimisme baru ketika situasi dan kondisi perekonomian kini tak baik-baik saja.
Saran saya untuk warga pemilih di Kabupaten Bangka, jadi lah pemilih cerdas. Pemilih yang mampu menganalisa dan menilai manakah cerita fakta, manakah yang fiktif. Jangan mudah termakan isu atau informasi liar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sumber informasinya.
Jangah mudah tergiring ke dalam gerakan yang menolak calon tunggal dengan iming-iming jika gerakan tersebut dari rakyat, dan merupakan gerakan swadaya, tapi kenyataannya mampu menyewa reklame yang nilai sewanya terbilang fantastis di ruas jalan perkotaan.
Karena patut publik pertanyakan, kalau memang gerakan tolak calon tunggal itu benar-benar dari rakyat dan merupakan swadaya rakyat, maka gerakan itu akan berjalan apa adanya, bukan ada apanya dan siapa di balik reklame megah nan besar yang bertuliskan coblos kolom kosong itu, ya?. (*)
Penulis : Julian Andryanto Mustafa (Wartawan Metro7.Co.Id & Sekretaris PJS Kabupaten Bangka).