
Tidak substansial sekali. Sebab kita sama-sama tahu, jika Pilkada Bangka waktu itu rencananya akan diikuti oleh 3 bakal calon (bacalon) kandidat yang diusung parpol berbeda.
Kemudian pertanyaannya kenapa hari ini malah tampil calon tunggal, tentu masyarakat mesti bertanya kepada 2 bacalon lainnya; kenapa mereka tidak jadi maju ke Pilkada Bangka? Bukannya alih-alih begitu mudah memercayai berbagai sangkaan yang tidak tahu kronologis yang sebenarnya.
Padahal, dari 2 bacalon kandidat itu, satunya sudah memasang baleho hingga reklame di berbagai tempat di kawasan Kota Sungailiat. Sementara yang satunya telah mendapat surat mandat politik dari DPP partai usungan, yang berita itu pun bahkan telah muncul di berbagai media massa.
Tapi kemudian keduanya tiba-tiba membatalkan dirinya untuk maju ke Pilkada Bangka, maka hal itu yang semestinya patut kita pertanyakan, ada apa? Kenapa tiba-tiba mundur disaat partai usungan sendiri telah siap merekomendasikan bacalon untuk maju.
Artinya menurut hemat saya, keduanya belum memiliki kesiapan mental dan modal sosial yang kuat dan siap ambil resiko untuk maju ke Pilkada Bangka ini.
Andai keduanya berani maju waktu itu, maka Pilkada Bangka ini tentu akan lebih variatif dan kompetitif sekali.
Akibat tidak adanya kesiapan dan keberanian itu lah akhirnya Pilkada di Bangka ini pun terpaksa hanya membuahkan satu calon kandidat tunggal.
Ini lah yang saya sebut sebagai seleksi alam dari sebuah proses politik berdemokrasi. Namun mirisnya, dalam proses berdemokrasi ini masyarakat kita kerap dibodoh-bodohi, dijejali ujaran-ujaran propaganda yang tersistematis. Menggiring hingga mengaburkan opini publik dari fakta kenyataan yang sebenarnya.
Sedangkan masyarakat itu sendiri tidak tahu bagaimana kisah dan proses dinamika politik waktu itu terjadi, sehingga muncul calon tunggal pada hari ini, yang saya asumsikan muncul dengan sangat terpaksa.