
Rommy menambahkan, cumi-cumi juga mengalami keterbatasan stok di pasar sebagai dampak dari gelombang tinggi dan angin kencang.
“Secara spasial tahunan, seluruh wilayah yang disurvei Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi. Kabupaten Belitung Timur tercatat sebagai wilayah yang mengalami inflasi tertinggi yakni sebesar 3,33% (yoy). Kemudian diikuti oleh Kabupaten Bangka Barat dan Tanjungpandan yang mengalami inflasi masing-masing sebesar 2,87% (yoy) dan 2,37% (yoy). Selanjutnya, Kota Pangkalpinang tercatat sebagai wilayah yang mengalami inflasi terendah yakni sebesar 1,96% (yoy),” terangnya.
Lebih lanjut, Rommy menambahkan Bank Indonesia terus bersinergi dengan TPID dan mitra strategis lainnya dalam menjaga inflasi pada rentang yang rendah dan stabil. Hal ini sebagai bentuk dukungan Bank Indonesia dan TPID terhadap 3 (tiga) langkah strategis pengendalian inflasi yaitu (i) menjaga inflasi tahun 2025 pada kisaran sasaran nasional 2,5±1% dalam rangka mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi; (ii) menjaga inflasi harga pangan bergejolak (volatile food) dalam kisaran 3,0-5,0% (yoy); dan (iii) memperkuat koordinasi pusat dan daerah dengan penyusunan Peta Jalan Pengendalian Inflasi 2025-2027. Untuk itu, Bank Indonesia bersinergi dengan TPID se-Bangka Belitung akan terus memperkuat kerangka kebijakan 4K dalam pengendalian inflasi yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif.
Dalam rangka mendukung keterjangkauan harga bahan pokok, sejak bulan Januari s.d Oktober 2025 setidaknya telah dilaksanakan 40 kali sidak pasar dan distributor di seluruh wilayah di Bangka Belitung baik yang dipimpin langsung oleh Kepala Daerah maupun oleh perwakilan instansi terkait. Selain itu, hingga akhir Oktober 2025 telah dilaksanakan kegiatan operasi pasar (OP) sebanyak 78 kali dan gerakan pasar murah (GPM) sebanyak 55 kali di seluruh wilayah di Bangka Belitung.