Lada Putih Babel Mendunia, tetapi Petani Tak Berdaya Tentukan Harga? HKTI Soroti Dominasi Pembeli Asing

    Caption: Mulyono Machmur.

    INTRIK.ID, PANGKALPINANG – Bangka Belitung dikenal sebagai salah satu sentra lada putih nasional. Komoditas unggulan ini bahkan telah menembus pasar ekspor berbagai negara. Namun, besarnya produksi dan nilai perdagangan belum tentu membuat petani memiliki posisi tawar yang kuat.

    Ironi tersebut disoroti Ketua Harian II DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Mulyono Machmur. Ia menilai perdagangan lada putih masih menyisakan persoalan mendasar, yakni lemahnya kendali petani terhadap pembentukan harga.

    Menurut Mulyono, pembeli dari luar negeri memiliki pengaruh besar dalam rantai perdagangan lada. Ia menilai kemampuan mereka menyerap dan menyimpan pasokan membuat posisi tawar pembeli lebih kuat dalam menentukan harga.

    “Siapa yang menentukan harga lada itu? Ternyata orang luar negeri. Mereka memborong lada kita, ditimbun, mereka yang mengatur supply demand-nya, mereka yang menetapkan harga. Ini saya sangat memprihatinkan karena Bangka Belitung sendiri merupakan eksportir lada putih,” ujar Mulyono.

    Pernyataan itu disampaikan usai pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) HKTI se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

    Ia menyebut Bangka Belitung menyumbang sekitar 39 persen produksi lada putih Indonesia. Komoditas tersebut juga telah dipasarkan ke sejumlah negara, di antaranya Vietnam, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Taiwan.

    Berdasarkan data yang disampaikannya, ekspor lada putih Babel pada 2026 mencapai sekitar 171,7 ton dengan nilai Rp28,22 miliar.

    Pages: 1 2 3 4
      Ikuti kami di Facebook