
Bagi Mulyono, capaian tersebut seharusnya menjadi modal untuk memperkuat posisi Babel dalam perdagangan lada. Jangan sampai daerah hanya kuat sebagai penghasil, sementara petaninya tetap bergantung pada mekanisme harga yang ditentukan pihak lain.
Hilirisasi Jadi Peluang, HKTI Diminta Kawal
Mulyono menilai persoalan posisi tawar petani harus menjadi perhatian serius HKTI. Organisasi ini tidak cukup hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi harus mampu memperjuangkan efisiensi usaha tani, memperluas akses pasar, dan mendorong sistem pertanian yang lebih modern.
Salah satu peluang yang disorot adalah pengembangan hilirisasi lada putih. Menurutnya, lada masuk dalam tujuh komoditas prioritas hilirisasi perkebunan dengan alokasi anggaran sekitar Rp9,5 triliun untuk pengembangan 870 ribu hektare.
Ia meminta HKTI Bangka Belitung ikut mengawal program tersebut agar peluang pengembangan industri perkebunan benar-benar memberikan manfaat bagi petani.
“Ini adalah peluang yang harus dikawal oleh HKTI Bangka Belitung,” tegasnya.
Hilirisasi dinilai penting agar nilai ekonomi komoditas tidak hanya dinikmati pada tahap perdagangan bahan mentah. Pengembangan produk olahan dan penguatan rantai usaha di daerah diharapkan dapat membuka peluang nilai tambah bagi sektor perkebunan.