
INTRIK.ID — Nama Sherly Tjoanda Laos tak hanya menarik perhatian karena menjadi perempuan pertama yang memimpin Provinsi Maluku Utara. Latar belakangnya sebagai pengusaha dengan portofolio bisnis di berbagai sektor strategis turut membuat perjalanan hidupnya menjadi sorotan.
Sherly kini berada di persimpangan dua dunia yang berbeda: bisnis dan pemerintahan. Di satu sisi, ia memiliki pengalaman mengelola usaha. Di sisi lain, sebagai Gubernur Maluku Utara periode 2025–2030, ia memegang tanggung jawab atas kebijakan pembangunan dan pelayanan publik bagi masyarakat.
Perjalanan menuju posisi tersebut juga tidak terlepas dari tragedi yang mengubah kehidupan keluarganya. Kepergian sang suami, Benny Laos, pada Oktober 2024 menjadi titik balik yang membawa Sherly memasuki panggung politik secara langsung.
Dari seorang pengusaha dan pendamping perjalanan politik suaminya, Sherly kemudian mengambil peran utama dalam kontestasi Pilkada Maluku Utara 2024. Ia berpasangan dengan Sarbin Sehe dan akhirnya terpilih sebagai gubernur.
Sherly lahir di Ambon pada 8 Agustus 1982. Ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Kristen Petra, Surabaya, dengan mengambil bidang International Business Management. Ia kemudian melanjutkan pendidikan melalui program gelar ganda di Inholland University, Belanda.
Latar belakang pendidikan tersebut sejalan dengan perjalanan kariernya di dunia usaha. Sebelum menjadi kepala daerah, Sherly terlibat dalam pengelolaan perusahaan yang bergerak di sejumlah sektor, termasuk perhotelan dan usaha lainnya yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi di Maluku Utara.
Salah satu perusahaan yang berkaitan dengan perjalanan bisnis keluarganya adalah Bela Group. Dalam perjalanan tersebut, Sherly tidak hanya dikenal sebagai istri Benny Laos, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki keterlibatan dalam dunia usaha.
Pengalaman di sektor swasta menjadi bagian penting dari profilnya. Namun, mengelola perusahaan dan memimpin pemerintahan memiliki karakteristik berbeda. Pemerintahan menuntut transparansi, akuntabilitas, serta keputusan yang mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas.
Perjalanan Sherly menuju kursi gubernur tidak berlangsung melalui jalur politik yang lazim dibangun seorang politisi sejak awal kariernya.
Pada 12 Oktober 2024, Benny Laos meninggal dunia setelah kapal cepat Bela 72 mengalami kebakaran dan ledakan di Pelabuhan Bobong, Kabupaten Pulau Taliabu. Saat itu, Benny tengah mengikuti kontestasi Pilkada Maluku Utara sebagai calon gubernur.
Sherly turut menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Kejadian itu menjadi pukulan besar bagi keluarganya sekaligus mengubah arah perjalanan politik yang sebelumnya dijalani bersama Benny.