
Oleh: Nurul Aryani
(Aktivis Dakwah Islam Kaffah)
“Seorang pemuda duduk di sebelah saya, dan tiba-tiba ia tertembak di kepala… Kami bahkan tidak tahu dari mana peluru itu berasal. Kami di sana mengejar [bantuan] untuk bertahan hidup, tetapi kami mendapati diri kami berlumuran darah. Hari ini, siapa pun yang mengambil sekantong tepung akan dihujani peluru”. Itulah ucapan seorang warga Gaza, Alaa Mohammed Bekhit kepada BBC News Arabic. In memberikan gambaran kepada kita bahwa harga satu kantong tepung saat ini di Gaza adalah satu nyawa manusia.
Zionis Israel dengan segala kekejian dan rasa frustasinya telah memblokade total bantuan yang masuk ke Gaza sejak 2 Maret 2025 lalu. Akibatnya tidak ada makanan, obat-obatan dan kebutuhan warga Gaza yang bisa masuk. Korban kelaparan telah mencapai 216 jiwa dan termasuk 100 orang diantaranya adalah anak-anak. Bahkan dalam 24 jam terakhir Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengumumkan sebanyak 11 warga Palestina meninggal karena kelaparan dan kekurangan gizi. (Republika, 11/08/25)
Kelaparan yang dialami oleh warga Gaza bukanlah akibat bencana alam melainkan strategi frustasi zionis untuk memusnahkan warga Gaza. Ambisi zionis untuk menguasai Gaza tidak kunjung berhasil. Akhirnya mereka menggunakan cara yang memalukan dan sangat bengis yakni membuat warga Gaza kelaparan. Mereka memblokade total gerbang rafah dibantu oleh Mesir sebagai penyokong kekuasaan Zionis dibawah ketiak Amerika. Berbagai bantuan masuk seperti air minum hingga makanan dihancurkan oleh tentara zionis. Mereka juga memutus pasokan air bersih ke Gaza.
Zionis dan tuannya Amerika membuat strategi yang sangat biadab. Amerika dan Zionis membuat lembaga berkedok bantuan kemanusiaan yang menyalurkan bantuan makanan ke warga Gaza. Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang menjadi pemasok bantuan yang beroperasi di warga Gaza. Puluhan ribu warga Gaza yang kelaparan harus berjalan puluhan kilo meter untuk mendapat bantuan di titik-titik bantuan yang disiapkan GHF.
Namun, bukannya mendapat makanan warga Gaza yang berkumpul untuk sekarung tepung demi keluarga yang telah menunggu mereka harus meregang nyawa ditembaki tentara zionis dan tentara bayaran Amerika Serikat. PBB mengungkap lebih dari seribu warga Gaza telah dibunuh oleh pasukan Zionis Israel saat mencoba mendapatkan bantuan makanan di titik bantuan GHF.
Kejinya lagi bantuan yang didapatkan warga Palestina dari GHF ini justru dicampur dengan narkoba di dalamnya. Sungguh betapa kejinya bangsa kera yang telah di tolak dimana-mana ini.
Sikap penguasa kaum muslim juga begitu mengecewakan. Mesir alih-alih membuka gerbang Rafah justru memilih untuk memperketat keamanan diseputaran perbatasan. Mesir memilih untuk tidak ikut campur sebagai bentuk ketundukannya pada Amerika. Pada aksi solidaritas Global March to Gaza kita disajikan video viral dimana orang-orang non muslim mengemis memohon kepada temtara muslim Mesir untuk membuka perbatasan. Namun, para tentara itu hanya diam dan justru menangkapi para aktivis yang datang untuk membela Gaza. Betapa memalukannya sikap penguasa dan tentara Mesir.
Yordania sebagai tetangga Palestina juga sebatas mengirimkan paket bantuan yang dijatuhkan dari udara (airdrops) yang justru telah berubah menjadi “paket mematikan”. Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan setidaknya 23 warga Palestina telah syahid dan 124 lainnya terluka akibat bantuan dari udara sejak perang Israel di daerah tersebut dimulai pada Oktober 2023. (Republika, 9/8/25).