Eskalasi Pilkada Ulang 2025: Ribut Rebut Suara

    Caption: yulian

    Harapannya, kantong suara Mulkan sebesar 50.000 pemilih itu bisa beralih tuan ke paslon pendatang baru.

    Refleksi Politik
    Sebagai catatan, jika dikomparasikan capaian suara Mulkan di Pilkada 2018 dengan Pilkada 2024, suara sang petahana itu hanya menurun tipis selama lima tahun memimpin.

    Pada 2018, Mulkan yang kala itu berpasangan dengan Syahbudin berhasil merogoh 59.334 suara pemilih, melawan dua kandidat lainnya, yaitu Tarmizi-Amri Cahyadi: 34.706 suara; dan Kemas Daniel-Fadilah Sabri: 27.864 suara

    Menakar elektabilitas politik Mulkan yang tidak bisa dianggap sekilas lalu itu, tentu membuat kehadiran Mulkan di Pilkada ulang nanti patut dikhawatirkan menjadi lawan berat bagi musuh politiknya.

    Bisa dibilang, sosok Mulkan ini, meski dinilai kontroversi, bahkan sempat disebutkan telah menemui ajal politiknya—jauh sebelum Pilkada 2024 berlangsung—ternyata masih terbilang mumpuni memberikan perlawanan sengit.

    Pencapaian suaranya di Pilkada 2024 lalu itu ditaksir merosot tajam. Elektabilitasnya juga diprediksi terperosok jatuh. Tak setangguh di Pilkada 2018.

    Tapi, skeptisisme itu terbantahkan. Mulkan, meski berujung kalah, namun masih mampu menggenjot 50.000 suara pemilihnya; hanya menurun 5,9 persen selama rentang waktu lima tahun.

    Dengan perolehan suara yang tidak merosot hingga 10 persen dari hasil Pilkada 2018, maka petahana seperti Mulkan yang citra politiknya belakangan ini sempat terguncang, ditengarai masih layak dimajukan oleh partai.

    Hal ini pun menandakan, Mulkan dan partainya PDIP, berpotensi jadi rival sekaligus resistensi politik yang tidak mudah ditembus oleh kubu lawan di Pilkada nanti.

    Ditambah, kehadiran politisi senior Rudiyanto Tjen di barisan PDIP yang telah beberapa kali periode memenangkan Pileg DPR RI, sangat potensial menggenjot suara kader partainya di Pilkada.

    Pada Pileg 2024 saja, PDIP meraup 168.406 suara, dengan suara caleg DPR RI tertinggi adalah Rudianto Tjen.

    Tercatat, rekam jejak PDIP di Pilkada Bangka dari 2013 hingga 2018 pun selalu konsisten tampil menjadi pemenang kontestasi.

    Hal itu pun disinyalir berkat militansi pemilih PDIP yang tidak berubah dari masa ke masa, ditambah basis kantong suara PDIP maupun Rudiyanto Tjen secara personal yang terbilang ideologis dan militan. Garis politik pemilihnya jelas; mendukung setiap calon yang diorbitkan partai.

    Pages: 1 2 3 4
      Ikuti kami di Facebook