
INTRIK.ID- Disebuah Kabupaten nama Bupati dan Wakil Bupatinya jarang dipanggil nama lengkap oleh warga. Mereka lebih akrab menyapanya dengan bisikan jenaka: Bupati dan Wakil Bupati Pantat Merah. Julukan itu lahir bukan karena mereka hobi memakai celana warna merah mencolok, melainkan karena dompet kulit tebal di saku belakang celananya hampir tak pernah dikeluarkan ( pelit ). Warga berseloroh, dompet itu menempel begitu erat sampai-sampai membuat bokong sang pejabat panas dan memerah.
Pagi itu, Pak Bupati dan wakil Bupati mengadakan kunjungan kerja ke salah satu Desa. Seperti biasa, mereka berdua datang membawa senyum lebar, setelan safari necis, dan segudang pidato tentang efisiensi anggaran. Namun, momentum puncaknya terjadi saat pidato Bupati berjanji akan memberikan bantuan pribadi untuk proyek perbaikan jembatan desa yang hampir roboh. Setelah melambaikan tangan dengan penuh wibawa di depan kamera wartawan, beliau menyerahkan sebuah amplop cokelat tipis kepada kepala desa.
”Ini sedikit kontribusi pribadi dari saya demi kelancaran pembangunan. Mari kita hemat dan gunakan dana secara bijak,” ujar Bupati dengan dada terbusung penuh kebanggaan.
Begitu juga dengan Wakil Bupati menyuruh ajudannya untuk menyerahkan amplop berisi uang kepada kepala desa .
“Pak ini ada titipan pribadi dari Bapak ( Wakil Bupati) untuk bantu memperbaiki jembatan yang roboh,” kata Sang ajudan Wakil Bupati.
tidak lama berselang rombongan mobil dinas Bupati dan Wakil Bupati berlalu meninggalkan debu jalanan, Pak Kades dengan tangan gemetar membuka amplop tersebut di hadapan tetua kampung. Di dalam kedua amplop terdapat uang Selembar Seratus Ribu Rupiah dan amplop satunya lagi berisi uang Seratus lima puluh ribu rupiah. Padahal, demi menyambut kedatangan sang pejabat, panitia desa telah patungan menyembelih dua ekor kambing terbaik dan menyajikan kopi kelas wahid.
Dikemudian hari Puncak kejengkelan warga terjadi ketika acara penggalangan dana digelar untuk janda tua yang atap rumahnya ambruk diterjang angin puting beliung. Saat panitia menyodorkan kotak sumbangan di depan meja kehormatan, Pak Bupati meraba saku celana belakangnya dengan wajah meringis, seolah mendadak terserang nyeri otot yang dahsyat.
”Wah, maaf sekali, dompet saya sepertinya tertinggal di kediaman dinas,” alasannya ringkas sambil menepuk saku belakangnya yang jelas-jelas menonjol tebal berbentuk persegi.
Malamnya, cerita tentang sang Bupati Pantat merah kembali menjadi bahan tertawaan hangat di warung kopi. Warga akhirnya sadar, kepemimpinan pasangan Bupati dan Wakil Bupati mungkin dipenuhi slogan penghematan anggaran, tetapi untuk urusan kepedulian rakyat kecil, dompetnya akan selalu terkunci rapat di balik saku celananya yang legendaris itu.