
“Namun ditengah perjalanan, di tahun 2020 kita dilanda Covid-19, sehingga tempat wisata ditutup yang berakibat fatal bagi usaha batik. Kami terpuruk, pengrajin dikurangi, penjualan menurun ini terjadi hampir dua tahun. Masyarakat lebih memilih makanan daripada batik,” sambungnya.
Tak dipungkirinya, ia sempat putus asa, namun dirinya berusaha bangkit kembali dengan bahan baku dan bantuan permodalan dari PT Timah Tbk membuat Ia bisa terus bangkit dalam menjalankan usahanya.
Alhasil, Batik De Simpor kini kembali eksis, menghasilkan ragam batik yang unik dan menarik yang menjadi ciri khas dari Belitung Timur.
“Dalam setiap corak dan warna batik, ada semangat gotong royong, untuk bersatu dan bersama-sama membangun masa depan yg lebih baik, dan menjadi tekun dalam menjalani kehidupan,” ujarnya.
Kedepan, sebagai perajin batik, Ia berharap PT Timah Tbk dapat terus membantu para UMKM seperti dirinya untuk mengembangkan usaha mereka.