
Ia menambahkan, hal ini juga berdampak dengan bisnis pengepul TBSnya untuk menambah kuota penjualan ke pabrik secara langsung karena tidak bisa jual TBS secara eceran.
“Kami juga rugi jadi pengepul bang. Inikan buah trek dan kuota ngirim ke pabrik jual gak boleh kurang 1 dump truk. Jadi kami juga ngambil eceran di petani kecil. Kami beli harga tinggi, jual harga rendah. Semua rugi la. Petani langsung rugi, pengepul apalagi rugi, ” ungkapnya.
Warga kecamatan Koba itu meminta agar pemerintah memberikan solusi terbaik untuk masyarakat di tengah ekonomi yang masih lesu sampai saat ini.
“Tolonglah segera dua pabrik Aon buka atau cari investor baru untuk buka pabrik baru di kita. Kami minta tolong atas nama petani sawit. Siklus ini akan berulang kalau gak ada pabrik baru, ” tutupnya.