
Penulis: Muhammad Ichsan Zacky
(Mahasiswa Prodi Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung)
Desa Batu Beriga di Bangka Belitung merupakan salah satu permata tersembunyi yang kaya akan keindahan alam dan sumber daya laut. Namun, ancaman kerusakan lingkungan kini menghantui desa ini akibat rencana pembukaan pertambangan timah yang dapat merusak ekosistem perairan setempat. Masyarakat Desa Batu Beriga, yang sangat bergantung pada kelestarian lingkungan untuk mata pencaharian mereka, kini berjuang keras agar Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang telah diberikan kepada perusahaan tambang dicabut.
Pertambangan timah, meskipun telah memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi Bangka Belitung, sering kali dilakukan dengan mengabaikan dampak lingkungan yang serius. Proses penambangan, terutama yang dilakukan secara intensif dan tanpa pengelolaan yang tepat, menghasilkan limbah berbahaya seperti merkuri dan sianida yang dapat mencemari air. Di Desa Batu Beriga, masyarakat khawatir bahwa pembukaan tambang timah akan menyebabkan pencemaran perairan, merusak terumbu karang, dan mengancam keanekaragaman hayati laut yang menjadi tulang punggung ekonomi mereka.
Limbah dari penambangan timah cenderung mengalir ke sungai dan laut, menyebabkan sedimentasi yang menutupi terumbu karang dan mengganggu habitat ikan. Terumbu karang yang rusak akan mengurangi populasi ikan, mengurangi hasil tangkapan nelayan, dan merusak ekosistem laut secara keseluruhan. Selain itu, pencemaran kimia dari limbah tambang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat yang mengandalkan air bersih dari sumber-sumber alami.
Masyarakat Desa Batu Beriga sangat bergantung pada laut untuk mata pencaharian mereka. Nelayan lokal, yang mencari nafkah dari penangkapan ikan dan budidaya laut, akan merasakan dampak langsung dari kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh penambangan timah. Penurunan kualitas dan kuantitas ikan tangkapan akan mempengaruhi pendapatan mereka, mengakibatkan krisis ekonomi di tingkat rumah tangga.