
Pada tahap awal, kelompok mendapatkan bantuan mini kultivator yang digunakan untuk mendukung pengolahan dan penggemburan lahan.
Dukungan berlanjut pada 2025 melalui bantuan pengembangan budidaya nanas. Bantuan tersebut digunakan untuk pengadaan bibit, sementara sebagian lainnya dialokasikan untuk kebutuhan pupuk dan herbisida.
Menurut Suparno, bantuan tersebut membantu kelompok mengembangkan lahan yang sebelumnya memiliki keterbatasan.
Namun, karakter tanah yang berpasir dan berbatu membuat proses budidaya tetap membutuhkan pengelolaan yang tepat. Kondisi tersebut kemudian disesuaikan dengan karakteristik nanas yang dibudidayakan di Pulau Kundur.
Hasil panen yang mulai terlihat juga membuat masyarakat sekitar tertarik mengikuti budidaya nanas.
“Alhamdulillah, betul-betul menunjang perekonomian kami. Di Desa Kundur, khususnya Dusun 1 Kampung Tailong, pertanian nanas sudah menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat,” ujar Suparno.
Menurutnya, nanas kini menjadi salah satu komoditas yang identik dengan Pulau Kundur. Masyarakat mulai melihat budidaya tersebut sebagai peluang ekonomi setelah melihat hasil yang diperoleh kelompok.
Bahkan, pemasaran nanas Bina Tani Tailong mulai menjangkau luar daerah. Sebagian hasil panen telah dipasarkan ke Batam.
“Untuk pemasaran, kemarin nanas kami dipasarkan ke Batam. Alhamdulillah, nanas segar yang kami bawa juga habis,” katanya.