
Semua data ini hanya tercatat karena adanya laporan. Sementara yang tidak melapor ketika mengalami kekerasan diprediksi bisa lebih banyak. Fenomena gunung es seperti ini memang seringkali menimpa para perempuan. Bukan hanya pada kasus kekerasan secara fisik tapi juga secara seksual. Banyak perempuan memilih bungkam ketimbang membuat laporan di kantor polisi.
Kenapa Masih Terjadi?
Terus terjadinya kekerasan terhadap perempuan baik fisik maupun seksual adalah bukti belum menyentuhnya solusi terhadap akar masalah. Bertahun-tahun angka ini tidak turun walau setengahnya. Berbagai upaya memang telah dilakukan pemerintah. Misalnya dengan telah disahkannya UU TPKS. Namun kenapa kekerasan pada perempuan masih terjadi bahkan dalam bentuk yang lebih sadis dan mengerikan? Perempuan terus menjadi korban bahkan oleh orang terdekat yang harusnya menjadi tempat terakhir meminta perlindungan.
Jawabannya karena tentu saja berbagai solusi hari ini tidak menyentuh pada akar masalah. Asas hidup yang memisahkan agama dari kehidupan (sekularisme) telah mengalpakan empati dari diri manusia. Demi kesenangan dan terkabulnya keinginan segala cara ditempuh. Pelampiasan emosi yang tidak dibentengi keimanan telah melahirkan manusia-manusia rusak dan merusak. Agama tidak dijadikan landasan dalam berbuat. Akibatnya segala tindakan dibimbing oleh hawa nafsu. Agama dianggap dogma. Diterapkan hanya dalam perkara ibadah. Padahal agamalah yang menuntun manusia bersikap baik. Agama pula yang diturunkan Allah sebagai pengatur kehidupan. Pembimbing manusia dalam bersikap. Maka jika bukan agama yang menuntun manusia berbuat baik, lantas apalagi?
Sekulerisme dengan asas matrealismenya juga telah menjadikan materi sebagai tujuan utama kehidupan. Perempuan kerap pula dipandang sebagai komoditas yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Pandangan nista ini telah menempatkan perempuan pada posisi yang sulit dan direndahkan. Pekerja perempuan dibayar lebih murah dan kerap mendapat kekerasan verbal dan non verbal di tempat bekerja. Eksploitasi besar-besaran perempuan oleh para pemilik modal juga mendorong perempuan menjadi korban kekerasan ketika bekerja. Mereka keluar dari rumah dengan sedikit atau tidak ada sama sekali jaminan keamanan atas diri mereka.
Kehidupan yang sulit dan serba bergantung atas materi, beban berat untuk memenuhi kebutuhan hidup juga dialami berbagai pasutri. Akibatnya stres yang dirasakan suami dalam mencari nafkah melahirkan sikap tempramen yang mengakibatkan istri menjadi sasaran tangan. Disinilah negara harus berperan. Menyediakan lapangan kerja yang banyak, menyediakan dan mempermudah masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya, memberikan jaminan atas kesehatan dan pendidikan yang merupakan hak dasar bagi warga negara. Sehingga masyarakat bisa hidup sejahtera dan tidak terus berada dalam tekanan ekonomi setiap saat.
Sekulerisme ini pula telah melahirkan anak yang mendatangkan malapetaka kehidupan. Yakni liberalisme. Liberalisme atau paham kebebasan menjadikan manusia bebas bersikap sesuka hati dan tanpa arahan. Menjalani kehidupan dituntun hawa nafsu dan keinginan. Melahirkan perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan pada kemaksiatan. Menjadi dalang utama kekerasan bahkan pada makhluk yang oleh Allah sangat dimuliakan yakni perempuan.
Asas pemisahan agama dari kehidupan inilah yang sejatinya harus terlebih dahulu dicabut. Menggantinya dengan aturan sempurna dari al kholiq (pencipta). Sehingga terbentuklah manusia-manusia berbudi pekerti luhur jika mereka betul-betul menjalankan aturan dari Allah SWT.