
“Belum 2 tahun sudah 2 kali roboh. Yang pertama masih diperbaiki, yang kedua sudah ditinggalkan begitu saja dengan alasan mereka gak punya uang lagi dan sampai sekarang gak ada kejelasan,” ucapnya.
Sapar melanjutkan, jika proyek tersebut kemungkinan milik Disparbudpora yang dikerjakan oleh pemborong bernama Mawan yang berasal dari Koba. Namun ia masih ingin memastikan arsip proyek tersebut karena tak ada lagi papan plang disana.
“Proyek pemda pokonya bang. Dinas mananya saya masih cari. Apakah PU atau Disparbudpora tapi seingat saya Disparbudpora. kalau pemborongnya orang Koba Mawan apa siapa gitu namanya. Saya cari berkas dulu bang dimana arsipnya ke perangkat desa. Soalnya udah gak ada lagi papan plang, ” tegasnya.
Ia juga menyesalkan proyek yang dikerjakan oleh pemborong dengan asal asalan tanpa ada tanggung jawab yang pasti oleh pemborong.
“Saya juga geram liat kayak gitu. Padahal itu termasuk pelayanan untuk masyarakat, ” ujar Sapar.
Sapar berharap, pihak terkait dapat memberikan penjelasan terkait proyek tersebut.