
“Dan kebanyakan dari mereka (kelompok tani-red) setelah mendapatkan bantuan baik itu sarpras, bibit dan lain sebagainya hanya putus di tengah jalan dan tidak berkelanjutan,” ungkapnya.
Lanjut dia, ketika suatu kelompok tani mendapatkan bantuan tersebut dan kemudian panen, maka idealnya hasil panen tersebut bisa dikelola lagi sehingga pertaniannya tetap bisa berjalan dengan cara membeli bibit dan pupuk kembali.
“Hal itulah yang kemudian harus diidentifikasi apakah karena memang modal pembelian bibitnya yang mahal atau memang hasil jualnya yang tidak sepadan dengan biaya produksi,” pungkasnya.
Dengan begitu, dirinya juga mengimbau agar kedepannya kelompok-kelompok tani yang dibantu sarpras, bibit, pupuk dan lain sebagainya adalah kelompok yang benar-benar komitmen dan punya kemandirian untuk memajukan pertaniannya.
Laporan wartawan intrik.id/Erwin