
Tim Penulis Opini :
1. Aldi
2. Annaml Salma Jaffis
3. Nadhira Disya Tsabitah
Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung
Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) atau Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) di Pulau Gelasa memunculkan dinamika sosial politik yang menarik sekaligus mengkhawatirkan, terutama bagi masyarakat Desa Batu Beriga sebagai komunitas pesisir paling dekat dan paling terdampak. Melalui laporan penelitian yang dilakukan, terlihat jelas bahwa persoalan utama bukan sekadar soal teknologi nuklir atau kebutuhan energi nasional, tetapi tentang bagaimana suara masyarakat lokal diposisikan dalam proses pengambilan keputusan pembangunan strategis.
Partisipasi masyarakat memang selalu menjadi indikator penting dalam legitimasi sebuah kebijakan publik. Sayangnya, dari temuan penelitian terlihat bahwa partisipasi masyarakat Batu Beriga masih berada pada tingkat yang sangat rendah. Mereka lebih banyak menjadi objek informasi ketimbang subjek yang dilibatkan secara penuh. Sosialisasi yang dilakukan oleh BAPETEN dan PT ThorCon Power Indonesia tampak sebatas formalitas untuk memenuhi prosedur administratif, bukan ruang dialog yang memadai. Bahkan sebagian warga, seperti Johan dan Jumarid, mengaku tidak pernah benar-benar mendapatkan undangan resmi atau informasi detail mengenai proyek tersebut. Hal ini menggambarkan bahwa negara dan pemangku proyek masih menganut pendekatan top-down yang kaku.